Bab satu · 23 Juli 2026
Kalimat yang diucapkan di Senayan
Kamis malam, 23 Juli 2026, di Jakarta Convention Center, Presiden Prabowo Subianto berpidato pada peringatan hari lahir ke-28 Partai Kebangkitan Bangsa. Di tengah pidato itu ia menyebut sebuah istilah yang sudah lama tidak terdengar di podium resmi.
"Kita tahu ada orang-orang Indonesia yang senang mengabdi dan berbakti kepada bangsa lain," katanya. "Itu yang dulu kita sebut Londo Ireng. Iya, yang ikut Belanda perang lawan kita, Londo-Londo Ireng ini sampai sekarang masih ada, hanya dia sekarang pakai baju lain kan."
Baju lain itu ia sebutkan satu per satu: wartawan, jurnalis, pengamat, LSM.
Londo ireng adalah bahasa Jawa untuk "Belanda hitam". Istilah itu dipakai orang kampung di Jawa untuk menyebut sesama pribumi yang bekerja pada mesin kolonial: serdadu sewaan, mandor perkebunan, juru tulis kantor residen, priyayi yang gajinya datang dari Batavia. Kulitnya sama dengan kulit orang yang ia perintah, tetapi perintahnya datang dari tempat lain. Istilah itu tidak pernah netral. Ia dipakai untuk menuduh.
Yang membuat kalimat presiden itu tajam adalah bagian tengahnya: "yang ikut Belanda perang lawan kita". Ia tidak sedang berbicara tentang orang yang sekadar bekerja untuk Belanda. Ia sedang berbicara tentang orang yang mengangkat senjata untuk Belanda.
Aliansi Jurnalis Independen menyebut istilah itu merendahkan dan mendelegitimasi kerja jurnalistik, lalu meminta permintaan maaf. Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia mengingatkan bahwa kalimat seorang presiden punya bobot politik yang bisa membuka jalan bagi persekusi. Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia membacanya sebagai tanda kepala negara yang antikritik.
Tetapi ada satu hal lain yang tidak muncul dalam perdebatan minggu itu.
Ibu Presiden Prabowo bernama Dora Marie Sigar. Ia lahir pada 1921 di Langowan, sebuah kota kecil di dataran tinggi Minahasa, Sulawesi Utara, dari keluarga Kristen yang sudah beberapa turunan berada di lingkaran pemerintahan. Ayah Dora, Philip Frederik Laurens Sigar, adalah pegawai tinggi pemerintah kolonial dan anggota Volksraad, dewan rakyat bentukan Belanda di Batavia. Dora dikirim bersekolah ke Belanda pada usia dua belas tahun, belajar perawatan pascabedah di Utrecht, lalu menikah dengan ekonom Sumitro Djojohadikusumo.
Naik lima generasi dari Dora, di ujung garis keluarga itu, ada seorang laki-laki yang meninggal di Langowan sekitar Januari 1880 pada usia kira-kira sembilan puluh tahun. Namanya Benjamin Thomas Sigar.
Pada 2 Februari 1880, koran Soerabaijasch Handelsblad memuat berita kematiannya dari Menado. Isinya lima baris. Salah satu barisnya berbunyi: ia adalah salah satu kepala yang ikut mengalami Perang Jawa melawan Diponegoro.
Ia tidak ikut perang itu di pihak Diponegoro. Ia berangkat dari Manado dengan kapal pemerintah, sebagai bagian dari pasukan bantuan yang dikirim Residen Menado untuk membantu tentara kolonial menumpas perlawanan di Jawa. Dalam bahasa yang dipakai presiden di Senayan, ia adalah orang Indonesia yang ikut Belanda perang lawan kita.
Laporan ini bukan tentang dosa turunan. Tidak ada satu pun cabang hukum atau moral yang memindahkan tanggung jawab seorang laki-laki abad kesembilan belas kepada cicit-cicitnya. Laporan ini tentang istilah itu sendiri: dari mana ia datang, siapa yang sebenarnya ia tunjuk, dan apa yang terjadi pada seseorang ketika ia menjadi Londo Ireng.
Jawabannya ada di koran-koran tua berbahasa Belanda, di dua jilid buku seorang guru zending, dan di sebuah laporan operasi militer yang diterbitkan di Batavia pada November 1829. Semuanya bisa dibaca hari ini.
"Yang ikut Belanda perang lawan kita." Lima generasi di atas presiden, seseorang persis melakukan itu.
Pidato Prabowo di Harlah ke-28 PKB, 23 Juli 2026
Reaksi organisasi pers dan bantuan hukum, Kompas 26 Juli 2026
Obituari Benjamin Thomas Sigar, Soerabaijasch Handelsblad 2 Februari 1880
Empat hal yang perlu diketahui lebih dulu
-
Londo Ireng, "Belanda hitam", adalah ejekan lama untuk orang pribumi yang bekerja bagi kekuasaan kolonial. Prabowo memakainya untuk wartawan, pengamat, dan LSM pada 23 Juli 2026.
-
Benjamin Thomas Sigar, wareng dari garis ibu Prabowo, adalah kepala distrik Langowan yang menurut obituarinya pada 1880 ikut Perang Jawa melawan Diponegoro di pihak Belanda.
-
Pada 6 dan 7 November 1829, lima puluh pasukan bantuan Menado bergerak bersama Mayor Michiels memburu Diponegoro di wilayah yang kini Kecamatan Kaliwiro, Wonosobo.
-
Sebagai Majoor Langowan pada 1848 sampai 1870, ia menerima bagian hasil kopi distrik, satu gulden dari tiap wajib pajak, dan empat sampai sepuluh tenaga kerja setiap hari.
Bab dua · sebelum 1841
Namanya bukan Benjamin
Ada satu masalah kecil dengan kalimat "Benjamin Sigar ikut Perang Jawa". Pada 1829, orang itu belum bernama Benjamin.
Daftar kepala Langowan menyebutnya Tawalijn. Dalam beberapa salinan ejaannya Tawaijlan Sigar. Itu nama Minahasa, dari dunia sebelum baptisan, sebelum sekolah zending, sebelum ada gereja di Langowan.
Nama Benjamin Thomas melekat padanya setelah ia dibaptis pada 1841 oleh Johann Gottlieb Schwarz. Schwarz adalah penginjil kelahiran Jerman yang dikirim Nederlandsch Zendeling Genootschap, lembaga zending Belanda, dan tiba di Langowan pada 1831. Ia bertahan di kota itu selama hampir tiga dasawarsa dan menjadi tokoh yang mengubah wajah keagamaan seluruh dataran tinggi Minahasa.
Selisih dua belas tahun itu penting. Menyebut "Kapitein Benjamin Sigar" untuk peristiwa 1829 sama dengan memasang nama seseorang pada masa ketika nama itu belum ia terima. Yang lebih penting, nama itu memasang identitas yang keliru: Benjamin adalah nama seorang Kristen yang sudah masuk ke dalam sistem kolonial, sedangkan Tawalijn adalah nama seorang pemimpin adat yang, pada saat itu, justru dikenal sebagai penghalang zending.
Ada varian ketiga yang beredar di daftar-daftar lokal, Bastian Thomas Sigar. Bentuk itu muncul di sebagian catatan dan tidak di sebagian yang lain, kemungkinan besar hasil salah salin dari nama baptis yang sama.
Untuk mengerti siapa Tawalijn pada 1829, perlu dibayangkan Minahasa sebelum ia menjadi wilayah Kristen. Masyarakatnya terbagi ke dalam satuan-satuan wilayah bernama walak, dalam ejaan Belanda ditulis balak. Setiap walak dipimpin kepala yang kekuasaannya bersandar pada keturunan, kemampuan perang, dan restu para pemuka agama leluhur.
Pemuka agama itu disebut Walian. Mereka memimpin foso, upacara yang mengatur panen, penyembuhan, kelahiran, dan kematian. Perempuan lazim memegang jabatan itu, dan seorang Walian bisa lebih berpengaruh daripada kepala walak.
Riwayat zending menyebut istri Sigar adalah seorang Walian. Riwayat yang sama menempatkan pasangan itu sebagai penghalang utama pekerjaan Schwarz di Langowan pada 1832 dan 1833.
Jadi pada tahun-tahun perang, laki-laki ini adalah elite adat dari masyarakat yang belum Kristen, yang rumah tangganya sendiri merupakan pusat agama lama. Dua puluh tahun kemudian ia adalah kepala distrik Kristen dengan gelar bergaya Eropa, yang wilayahnya penuh sekolah dan gereja.
Di antara dua laki-laki itu ada sebuah perang, sebuah pembaptisan, dan delapan tahun yang tidak tercatat.
Urutan itulah yang menjadi kerangka laporan ini. Ia berangkat sebagai Tawalijn dan pulang sebagai orang yang, sepuluh tahun kemudian, menerima nama Benjamin.
Sepanjang bagian perang, naskah ini memakai nama Tawalijn. Sesudah 1841, ia disebut Benjamin. Itu bukan kerewelan penulisan. Perpindahan nama adalah inti ceritanya.
Yang menyeberang ke Jawa pada 1829 adalah Tawalijn Sigar. Benjamin Thomas adalah nama yang ia terima dua belas tahun kemudian.
Riwayat hidup J.G. Schwarz, Berita Manado
Sejarah penginjilan Langowan, catatan keluarga Saerang
Sanggar Apapuhang / Alffian Walukow. CC BY-SA 4.0.
Bab tiga · 26 Januari 1829
Sembilan kontrak dari Manado
Pada 26 Januari 1829, Residen Menado D.F.W. Pietermaat menulis surat. Residen adalah pejabat Belanda tertinggi di sebuah keresidenan, setingkat gubernur wilayah, dan Menado ketika itu mencakup seluruh Minahasa sampai Gorontalo.
Isi surat itu: ia mengirim sembilan kontrak perekrutan pasukan bantuan untuk perang di Jawa.
Perang Jawa sudah memasuki tahun kelima. Diponegoro memulainya pada 1825 dan selama tiga tahun pertama membuat pemerintah kolonial nyaris kehabisan napas. Serdadu Eropa mati bukan terutama karena peluru, melainkan karena disentri dan malaria. Kas negara terkuras. Batavia lalu memakai jalan yang sudah lama mereka kenal: mendatangkan orang bersenjata dari pulau lain.
Pasukan semacam itu disebut hulptroepen, pasukan bantuan. Di Minahasa mereka dikenal sebagai Pasukan Tulungan, dari kata tulung, menolong. Nama itu manis. Kerjanya tidak.
Ada alasan dingin di balik pemilihan orang Minahasa. Mereka tidak bisa berbahasa Jawa, tidak punya kerabat di desa-desa Kedu dan Bagelen, dan tidak punya ikatan apa pun dengan Kesultanan Yogyakarta. Pasukan yang tidak bisa bercakap-cakap dengan penduduk adalah pasukan yang sulit dibujuk untuk membelot. Mereka juga jauh lebih murah daripada serdadu Eropa.
Dari sembilan kontrak yang disebut Pietermaat, hanya satu yang sampai ke tangan pembaca hari ini secara utuh, yaitu kontrak Tondano. Isinya rinci: seratus dua puluh orang dari Balak Tondano ditambah sekitar dua puluh tiga rekrut baru, berangkat dengan schooner Sirius, dipimpin oleh Hukum Kedua Alexander Wuisang.
Hukum Kedua adalah jabatan wakil kepala distrik dalam susunan pemerintahan Minahasa saat itu. Bahwa seorang wakil kepala distrik memimpin kontingen ke medan perang memberi tahu banyak hal tentang bagaimana perekrutan itu bekerja: yang mengumpulkan orang bukan tentara Belanda, melainkan kepala-kepala lokal.
Kontrak kedua yang tercetak, untuk Tondano-Toulimambot, menyebut Abraham Dotulung beserta jajaran perwira lokalnya, termasuk Johannis Sangare, Kawilarang, dan seorang Hukum bernama Jacob. Nama-nama itu adalah nama keluarga yang sampai hari ini masih dikenal di Minahasa.
Surat Pietermaat sampai kepada kita karena dicetak ulang oleh Everhardus Cornelis Godée Molsbergen. Ia sejarawan dan arsiparis Belanda yang memimpin Landsarchief di Batavia, lembaga arsip negara yang kelak menjadi Arsip Nasional Republik Indonesia. Pada 1928 Godée Molsbergen menerbitkan Geschiedenis van de Minahassa tot 1829, sebuah buku yang sebagian besar isinya adalah salinan dokumen asli dari lemari arsip itu. Halaman 196 sampai 199 memuat surat perekrutan tersebut.
Yang diperlihatkan kontrak-kontrak itu adalah sebuah mekanisme, bukan sekadar peristiwa. Pemerintah kolonial tidak menarik wajib militer langsung dari penduduk. Ia berunding dengan kepala walak, menandatangani kontrak, dan membiarkan kepala itu yang mengumpulkan orang dari kampungnya sendiri.
Bagi seorang kepala, kontrak semacam itu adalah tawaran yang sulit ditolak dan menguntungkan bila diterima. Yang pulang membawa pasukan biasanya pulang dengan pangkat, gelar, atau keduanya. Nicolaas Graafland, guru zending yang menulis buku paling rinci tentang Minahasa abad kesembilan belas, mencatat bahwa gelar Majoor mula-mula justru diberikan kepada kepala yang ikut ke Jawa atau menyediakan banyak orang untuk perang itu.
Gelar Majoor yang kelak dipakai Benjamin Sigar, dengan kata lain, adalah upah perang.
Kajian arsip terbaru mempertegas mekanismenya. Ariel Lopez, sejarawan yang meneliti Minahasa abad kesembilan belas, mencatat bahwa kepala yang menyediakan lebih banyak orang diakui sebagai hukum majoor, sedangkan yang menyediakan lebih sedikit tetap sebagai hukum besar. Pangkat kolonial di Minahasa, dengan demikian, adalah fungsi dari berapa banyak anak muda yang bisa dikirim seorang kepala ke Jawa.
Kajian yang sama memberi ukuran keseluruhannya. Yang berangkat dari Minahasa ke Jawa bukan satu atau dua kontingen, melainkan sekitar seribu empat ratus orang. Pemimpin seluruh rombongan itu adalah H.W. Dotulong, Majoor Sonder, yang memegang jabatannya dari 1824 sampai 1861.
Nama itu penting untuk menempatkan Sigar pada ukuran yang benar. Kepala Langowan bukan panglima pasukan Minahasa. Ia salah satu dari sekian kepala walak yang menyetor orang ke dalam rombongan besar pimpinan Dotulong.
Kontrak Langowan sendiri tidak termasuk dalam bagian yang dicetak Godée Molsbergen. Yang tercetak hanya Tondano. Delapan kontrak lain, termasuk milik walak-walak lain di dataran tinggi, tinggal di arsip yang belum dibuka kembali.
Godée Molsbergen, Geschiedenis van de Minahassa tot 1829 (1928), hlm. 196-199
N. Graafland, De Minahassa, jilid I (1867), hlm. 187-190
Ariel Lopez, "Christian Conversions and Dutch Colonialism in Minahasa", Archipel 109 (2025)
Desiré Heyse menurut Cronenberg & Wolff; kartografi Pieter Melvill van Carnbee; Rijksmuseum. CC0.
Bab empat · 10 Maret 1829
Seratus empat puluh satu orang di atas Sirius
Pada 10 Maret 1829, Javasche Courant memberitakan sebuah kedatangan di pelabuhan Semarang. Schooner Sirius merapat dari Menado membawa seratus empat puluh satu pasukan bantuan dan rekrut.
Javasche Courant adalah koran resmi pemerintah Hindia Belanda yang terbit di Batavia. Isinya pengumuman jabatan, daftar kapal masuk dan keluar, harga komoditas, dan laporan militer dari medan perang. Koran itulah yang membuat perang Diponegoro bisa dilacak hari ini hampir minggu demi minggu.
Schooner adalah kapal layar bertiang dua dengan lambung ramping, cepat, dan tidak besar. Menempatkan seratus empat puluh satu orang bersenjata di atas kapal seukuran itu berarti geladak yang penuh sesak selama pelayaran hampir seribu enam ratus kilometer, menyusuri Laut Sulawesi, Selat Makassar, dan Laut Jawa.
Sebagian besar penumpangnya belum pernah meninggalkan Minahasa. Mereka berangkat dari daerah berketinggian sejuk menuju dataran rendah Jawa yang panas, ke sebuah perang yang bahasanya tidak mereka mengerti.
Pengiriman itu tidak berhenti pada satu kapal. Pada 30 Juni 1829, schooner Diana tiba melalui Menado, Buru, dan Makassar membawa seratus tiga puluh pasukan bantuan lagi.
Pada tanggal yang sama, Javasche Courant memuat penilaian Letnan Jenderal Hendrik Merkus de Kock, panglima tertinggi sekaligus wakil gubernur jenderal Hindia Belanda: pasukan bantuan yang berturut-turut dikirim Residen Menado memberi jasa yang baik, walaupun mereka masih muda dan belum banyak terlatih.
Kalimat itu perlu dibaca sebagaimana adanya. Yang sedang dinilai De Kock bukan orang-orangnya, melainkan kegunaan mereka bagi kampanyenya.
De Kock adalah arsitek benteng stelsel, strategi yang mengubah jalannya perang. Alih-alih mengejar Diponegoro dalam pertempuran besar, pasukan kolonial membangun ratusan benteng kecil yang saling terhubung, memotong wilayah menjadi kotak-kotak, lalu menyisir tiap kotak dengan kolom bergerak. Perlawanan yang mengandalkan kecepatan dan dukungan desa perlahan kehabisan ruang, pangan, dan tempat berteduh.
Strategi itu rakus tenaga manusia. Setiap benteng butuh penjaga, setiap kolom butuh pengangkut, penunjuk jalan, dan pasukan pengaman. Di sinilah pasukan bantuan dari luar Jawa menemukan tempatnya.
Ketika Sirius merapat pada Maret 1829, perlawanan Diponegoro sudah menyusut. Sebagian besar bangsawan pendukungnya telah menyerah atau ditangkap. Enam bulan kemudian, pada 17 September 1829, pasukannya kalah telak di Siluk, selatan Yogyakarta. Yang tersisa sesudah itu bukan lagi perang terbuka, melainkan pengejaran.
Pengejaran adalah pekerjaan yang tidak megah. Ia berlangsung di jalan setapak, di punggung bukit, di desa-desa kecil yang namanya tidak pernah muncul di buku sejarah. Ia dijalankan oleh satuan-satuan kecil yang bergerak cepat.
Untuk pekerjaan itulah lima puluh orang Menado dikirim bersama seorang mayor muda ke pedalaman Bagelen pada awal November 1829.
Javasche Courant, 10 Maret 1829
Javasche Courant, 30 Juni 1829
Maret 1829 - Maret 1830
Ke mana mereka sebenarnya pergi
Nama-nama desa dalam laporan operasi November 1829 ditulis dengan ejaan Belanda dan selama hampir dua abad dianggap tidak terlacak. Laporan itu sendiri menyebut tiga jangkar yang masih ada sampai kini, yaitu Bagelen, Kaliwiro, dan Plamjarang. Dari ketiganya, hampir seluruh rute pengejaran bisa dikenali kembali dan diletakkan di peta sebenarnya.
Hasilnya mengejutkan justru karena kecil. Operasi 6 sampai 7 November 1829 seluruhnya berlangsung di dalam kotak sekitar dua puluh kilometer di Wonosobo selatan, di jalan-jalan yang sampai hari ini masih menghubungkan desa-desa yang sama. Garis merah pada peta berikut mengikuti jalur darat yang benar-benar ada, bukan garis lurus antartitik.
-
sebelum 1829
Langowan
Kini Langowan, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara.
Sebuah kota di dataran tinggi Minahasa, sekitar 700 meter di atas permukaan laut, dikelilingi tanah vulkanik yang subur di kaki Gunung Soputan. Di sinilah keluarga Sigar berkuasa turun-temurun.
Pada 1829 Langowan adalah sebuah walak, satuan wilayah adat Minahasa yang dipimpin kepala dengan otoritas turun-temurun. Belum ada gereja. Belum ada sekolah. Yang ada adalah rumah panggung, kebun, dan upacara foso yang dipimpin para Walian.
Dua puluh tahun kemudian, tempat yang sama sudah menjadi distrik dalam Afdeling Tondano dengan jalan yang bisa dilalui kereta, sebuah loge untuk pejabat yang singgah, gereja, sekolah, dan kebun kopi yang menyetor ke pemerintah.
Dari kota inilah Tawalijn Sigar berangkat, dan ke kota ini pula ia kembali. Sembilan puluh dua tahun setelah kematiannya, di kota yang sama, lahir seorang anak perempuan bernama Dora Marie Sigar.
-
Januari - Maret 1829
Menado
Kini Manado, Kota Manado, Sulawesi Utara.
Pelabuhan tempat semuanya dimulai. Dari kantor residen di kota inilah D.F.W. Pietermaat menandatangani sembilan kontrak perekrutan pada 26 Januari 1829.
Manado pada 1829 adalah kota kecil dengan benteng, gudang, dan dermaga, yang menghubungkan dataran tinggi penghasil kopi dengan jaringan pelayaran kolonial. Jarak dari Langowan ke pelabuhan ini sekitar 50 kilometer, ditempuh berjalan kaki melewati punggung pegunungan.
Kontrak Tondano yang dicetak Godée Molsbergen menyebut seratus dua puluh orang ditambah sekitar dua puluh tiga rekrut, dipimpin Hukum Kedua Alexander Wuisang. Kontrak lain menyebut Abraham Dotulung dan para perwira lokalnya.
Yang berkumpul di dermaga ini pada awal 1829 adalah rombongan yang dikumpulkan oleh kepala-kepala kampung mereka sendiri, bukan oleh tentara Belanda.
-
10 Maret 1829
Semarang
Kini Semarang, Kota Semarang, Jawa Tengah.
Schooner Sirius merapat di Semarang pada 10 Maret 1829, membawa seratus empat puluh satu pasukan bantuan dan rekrut dari Menado.
Garis pada peta ini menandai hubungan dua pelabuhan, bukan haluan kapal yang sebenarnya. Yang dicatat koran adalah keberangkatan dan kedatangan, jarak sekitar 1.600 kilometer yang ditempuh menyusuri Laut Sulawesi, Selat Makassar, dan Laut Jawa.
Semarang adalah pintu masuk utama pantai utara Jawa: pelabuhan dagang, garnisun, dan titik bongkar bagi pasukan yang didatangkan dari luar pulau. Dari sini pasukan bergerak ke pedalaman lewat jalan raya pos yang dibangun Daendels dua puluh tahun sebelumnya.
Pada 30 Juni 1829, schooner Diana menyusul melalui Menado, Buru, dan Makassar dengan seratus tiga puluh pasukan bantuan lagi.
Sumber: Javasche Courant, 10 Maret 1829
-
17 September 1829
Siluk
Kini Siluk, Desa Selopamioro, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul, DIY.
Dari Semarang, medan perang berada sekitar 150 kilometer ke selatan. Garis pada peta mengikuti jalan darat yang menghubungkan pelabuhan itu dengan lembah selatan Yogyakarta, melewati Ambarawa, Magelang, dan Muntilan.
Di Siluk, di tepi Kali Oya, pada 17 September 1829 berlangsung pertempuran yang praktis menamatkan perlawanan bersenjata Diponegoro. Sekitar seribu lima ratus serdadu kolonial dalam tiga kolom bergerak berhadapan dengan sekitar tiga ratus pasukan Diponegoro yang sebagian besar berkuda.
Kolonel Cochius memimpin di pihak kolonial, dibantu Letnan Kolonel Le Bron de Vexela dan Bernard Sollewijn. Di pihak Diponegoro ada Sentot Prawirodirdjo dan Pangeran Prabuningrat.
Lima puluh empat orang tewas di masing-masing pihak. Pangeran Prabuningrat termasuk yang gugur, bersama tujuh bangsawan lain. Diponegoro lolos ke barat menyeberangi Kali Progo; Sentot mundur ke selatan.
Sesudah Siluk, satu demi satu panglima Diponegoro menyerah sepanjang September dan Oktober. Yang tersisa bukan lagi perang, melainkan perburuan terhadap seorang pemimpin yang semakin sendiri.
Sejumlah tulisan modern menempatkan Pasukan Tulungan dari Minahasa di pertempuran ini. Laporan sezaman tentang Siluk menyebut kolom-kolom dan komandan Eropa, tanpa merinci satuan bantuan yang menyertainya.
-
21 September 1829
Gunung Kelir
Kini Gunung Kelir, Kecamatan Girimulyo, Kabupaten Kulon Progo, DIY.
Empat hari setelah kekalahan di Siluk, rombongan yang tercerai-berai bergerak ke barat laut, menyeberangi Kali Progo, menuju perbukitan Menoreh. Gunung Kelir di Kecamatan Girimulyo, Kulon Progo, berada di punggung perbukitan itu, sekitar 30 kilometer dari Siluk.
Di sana, pada 21 September 1829, Pangeran Ngabehi dan dua putranya dibunuh. Kepala mereka dipenggal dan dipasang pada bambu, tubuhnya dilemparkan ke jurang.
Peter Carey, yang merujuk laporan Letnan Kolonel Cleerens, menyebut pelakunya hanya sebagai sebuah "Indonesian barisan". Istilah itu perlu diterjemahkan dengan hati-hati: yang dimaksud adalah satuan barisan pribumi, yaitu pasukan bersenjata yang direkrut pemerintah kolonial dari penduduk Nusantara sendiri. Barisan semacam itu berasal dari banyak daerah, mulai Madura, Bugis, Ambon, sampai Minahasa.
Sejumlah artikel modern menyebut pelakunya secara khusus orang Manado. Sumber yang mereka rujuk tidak menyebut daerah asal satuan itu.
Yang jelas dari peristiwa ini adalah cara kerja perang pada fase akhirnya. Pemenggalan dan pemajangan kepala bukan tindakan spontan, melainkan cara mengumumkan kepada penduduk bahwa perlindungan seorang pangeran sudah tidak berarti apa-apa.
Sumber: Peter Carey, The Power of Prophecy (2007), hlm. 652-660
-
4 November 1829
Plamjarang
Kini Plunjaran, Kecamatan Wadaslintang, Kabupaten Wonosobo.
Enam bulan setelah mendarat di Semarang, pengejaran berpindah ke barat daya, ke perbukitan di perbatasan Wonosobo, Kebumen, dan Purworejo. Garis pada peta menunjukkan jarak yang harus ditempuh dari pelabuhan pendaratan sampai ke medan operasi November 1829: sekitar 130 kilometer melewati Ambarawa, Temanggung, dan Wonosobo.
Pada 4 November 1829, Mayor Michiels berada di sebuah tempat yang ditulis Plamjarang dalam laporannya. Nama itu bertahan sampai sekarang sebagai Plunjaran, desa di Kecamatan Wadaslintang.
Di tempat inilah ia menerima kabar bahwa Diponegoro sudah meninggalkan Soemo Gede dan bergerak lebih ke utara menuju Lamok.
Mayor Michiels adalah Andreas Victor Michiels, perwira kelahiran 1797 yang baru diangkat menjadi mayor pada tahun itu. Kariernya menanjak cepat sesudah Perang Jawa. Dua puluh tahun kemudian ia menjadi letnan jenderal dan gubernur di Sumatra Barat, lalu tewas dalam ekspedisi militer ke Bali pada 1849.
Laporan tanggal ini belum menyebut detasemen Menado. Kehadiran mereka baru muncul dua hari kemudian, di Kaliwiro.
-
5-6 November 1829
Kaliwiro
Kini Kaliwiro, Kecamatan Kaliwiro, Kabupaten Wonosobo.
Dari Plunjaran, Michiels berbelok ke utara menuju Kaliwiro dan tiba di sana pada 5 November. Jaraknya sekitar 12 kilometer melewati jalan yang menyusuri lembah Sungai Bogowonto.
Nama Kaliwiro tidak pernah berubah. Kini ia ibu kota kecamatan di Kabupaten Wonosobo.
Di sini Michiels memecah pasukannya, mengirim beberapa perwiranya ke arah yang berbeda untuk menyisir kemungkinan jalur pelarian.
Dan di sinilah, pada 6 November, laporan itu untuk pertama kalinya menyebut orang Menado. Michiels berangkat dari Kaliwiro dengan tujuh puluh prajurit jager dan lima puluh pasukan bantuan Menado.
Jager adalah infanteri ringan: prajurit bersenjata senapan laras panjang yang dilatih bergerak cepat dalam kelompok kecil, menembak dari jarak jauh, dan beroperasi di medan berat. Mereka adalah pasukan pilihan untuk pengejaran semacam ini.
Seratus dua puluh orang bersenjata, meninggalkan Kaliwiro pada pagi 6 November 1829. Inilah titik awal yang terdokumentasi bagi detasemen Menado dalam seluruh Perang Jawa.
-
3-6 November 1829
Soemo Gede
Kini Somogede, Kecamatan Wadaslintang, Kabupaten Wonosobo.
Somogede adalah desa di Kecamatan Wadaslintang yang menurut riwayat setempat sudah berdiri sejak 1730. Pada awal November 1829, di sinilah Diponegoro bermalam.
Garis pada peta ini bukan gerak pasukan kolonial, melainkan gerak pihak yang sedang diburu. Pada malam 6 November, Diponegoro meninggalkan Somogede dan bergerak ke utara menuju Lamok, menyusuri jalur di antara punggungan bukit.
Kolom Michiels tidak pernah sampai ke Somogede. Mereka berbelok ke utara di tengah jalan begitu kabar tentang perpindahan itu sampai kepada mereka.
Fase perang ini adalah fase kejar-kejaran jarak dekat. Dua rombongan bergerak di kawasan yang sama, terpisah beberapa kilometer, saling mengandalkan kabar dari penduduk dan mata-mata yang direkrut dari kedua belah pihak.
Bagi desa-desa di antara keduanya, itu berarti dua rombongan bersenjata melintas dalam hitungan hari, masing-masing membutuhkan pangan, penunjuk jalan, dan tempat berteduh.
-
6 November 1829
Altan
Kini Ngalian, Kecamatan Wadaslintang, Kabupaten Wonosobo.
Laporan Michiels menyebut sebuah tempat bernama Altan, di ketinggian, tempat para mata-matanya melapor bahwa Diponegoro semalam telah bergerak balik ke Lamok. Tempat itu adalah Ngalian.
Letaknya masuk akal secara geografis. Ngalian berada persis di tengah jalur yang menghubungkan Somogede di selatan dengan Lamuk di utara, pada punggungan yang memberi pandangan ke lembah di kedua sisi.
Di titik inilah kolom berbelok arah. Sasaran semula, Somogede, ditinggalkan; kolom berputar mengikuti kabar terbaru.
Lima puluh orang Menado melewati tempat ini pada 6 November 1829.
Tempat semacam Ngalian menjelaskan bagaimana pengejaran itu bekerja. Bukan peta yang menentukan arah gerak pasukan kolonial, melainkan laporan yang datang dari orang-orang lokal yang dipekerjakan sebagai pengintai, dan yang identitas maupun motifnya tidak pernah dicatat.
-
malam 6 November 1829
Prouwo
Kini Purwo, Kecamatan Kaliwiro, Kabupaten Wonosobo.
Hari menjelang malam ketika kolom tidak dapat maju lebih jauh. Mereka berhenti di desa Prouwo dan bermalam di sana.
Prouwo kini bernama Purwo, sebuah desa di Kecamatan Kaliwiro. Jaraknya dari Lamuk hanya sekitar 2,4 kilometer, cocok dengan laporan bahwa keesokan paginya kolom melanjutkan perjalanan dan diserang tak lama sebelum tiba.
Ini satu-satunya malam dalam seluruh cerita ini yang lokasinya diketahui dengan pasti. Seratus dua puluh orang bersenjata, tujuh puluh jager dan lima puluh orang Menado, tidur di sebuah desa kecil di lereng Wonosobo.
Laporan tidak menyebut di mana mereka tidur, apa yang mereka makan, atau siapa yang menyediakannya. Kolom bergerak pada masa itu bertumpu pada apa yang tersedia di tempat mereka berhenti.
Yang menyaksikan malam itu adalah penduduk Prouwo. Tidak ada satu pun nama mereka yang masuk ke dalam laporan.
-
7 November 1829
Lamok
Kini Lamuk, Kecamatan Kaliwiro, Kabupaten Wonosobo.
Pagi 7 November, sekitar tujuh ratus meter sebelum Lamok, tembakan datang dari jurang bersemak di sisi kiri jalan. Senapan, dan lila, meriam kecil berputar yang biasa dipakai pasukan Jawa dan dipasang di atas tumpuan kayu.
Michiels melarang anak buahnya membalas tembakan. Ia memerintahkan pasukan maju dalam formasi kolom dengan empat peleton sambil meniup sangkakala serbu. Taktik itu mengandalkan tekanan: bergerak lurus ke arah sumber tembakan tanpa berhenti, sehingga penyergap harus memilih antara bertahan dalam pertarungan jarak dekat atau mundur.
Pada jarak sekitar lima puluh langkah, pasukan Diponegoro mundur. Para jager mengejar sekitar satu setengah kilometer melewati jalan-jalan setapak.
Michiels sendiri menulis dalam laporannya bahwa ia tidak yakin lawan kehilangan banyak orang, karena mereka terlindung oleh hutan.
Dalam operasi yang sama, patroli menangkap seorang tokoh agama yang disebut laporan sebagai pendeta musuh, dengan tuduhan mengintai pos depan. Dari orang itulah Michiels mengaku memperoleh taksiran kekuatan Diponegoro: sekitar seratus empat puluh orang bersenjata senapan dan tombak, dipimpin dua putra Diponegoro, dua kerabat bergelar pangeran, seorang Rijksbestierder atau patih, dan tiga tumenggung.
Laporan itu tidak menjelaskan dasar tuduhannya, cara keterangan itu diperoleh, maupun apa yang terjadi pada orang tersebut sesudahnya.
Inilah satu-satunya pertempuran dalam Perang Jawa yang bisa dipastikan melibatkan pasukan bantuan Menado, dan satu-satunya tempat di seluruh peta ini di mana mereka disebut dalam dokumen sezaman.
-
11 November 1829
Gowong
Kini Gowong, Kecamatan Bruno, Kabupaten Purworejo.
Empat hari setelah Lamok, pengejaran berpindah sekitar 18 kilometer ke tenggara, ke kawasan Gowong. Nama itu masih ada sebagai desa di Kecamatan Bruno, Kabupaten Purworejo, dan dulu juga merupakan nama sebuah distrik di Bagelen.
Di perbukitan Gowong, pada 11 November 1829, kolom Michiels nyaris menangkap Diponegoro.
Ia lolos, tetapi kehilangan kudanya, tombak pusakanya, dan sebagian pakaiannya. Bagi seorang pangeran Jawa, kehilangan pusaka bukan kerugian perlengkapan. Ia adalah kehilangan tanda kebesaran.
Empat bulan kemudian, di Magelang, Diponegoro menyerahkan diri dalam perundingan yang berakhir dengan penangkapannya.
Laporan 6 dan 7 November memastikan lima puluh orang Menado berada bersama Michiels beberapa hari sebelum peristiwa Gowong. Susunan kolom pada 11 November sendiri tidak dirinci dalam laporan yang terbit.
-
28 Maret 1830
Magelang
Kini Magelang, Kota Magelang, Jawa Tengah.
Pada 28 Maret 1830, hari raya Idulfitri, Diponegoro datang ke Magelang untuk berunding dengan Letnan Jenderal De Kock. Perundingan itu berakhir dengan penangkapannya.
Ia dibawa ke Batavia, lalu diasingkan ke Manado, tempat ia ditahan di Benteng Amsterdam selama tiga tahun, sebelum dipindahkan ke Makassar sampai wafatnya pada 1855.
Ada ironi geografis di situ. Diponegoro menghabiskan tiga tahun pertama pengasingannya di ibu kota keresidenan yang mengirim pasukan bantuan untuk memburunya.
Cerita yang diwariskan di lingkungan keluarga Sigar menempatkan Tawalijn atau pasukannya dalam lingkaran pengamanan penangkapan itu. Penangkapan di Magelang dirancang dan dijalankan langsung oleh pimpinan kolonial di bawah De Kock, dan catatan sezaman tentang hari itu menyebut para perwira Belanda yang hadir, bukan satuan bantuan dari luar Jawa.
Delapan bulan setelah Magelang, para pasukan bantuan dipulangkan ke daerah asal masing-masing, dan pemimpinnya diberi pangkat atau gelar.
Bab lima · membaca laporan 1829
Yang ditulis laporan itu, dan yang tidak
Laporan Mayor Michiels tentang operasi 6 dan 7 November 1829 menyebut sembilan nama dari pihaknya sendiri: Letnan Marnitz dan Kobold, ajudan Bernhard, bintara Uske, kopral Boudewijn dan Strons, sersan Ambon Dilangoe, kopral Ambon Sieboe dan Johannes, para flankeur Assella, Frans, dan Jacob, serta sersan pribumi Perns.
Tidak satu pun dari lima puluh orang Menado disebut namanya. Yang tertulis hanya jumlah mereka.
Itu bukan kelalaian. Begitulah laporan militer kolonial disusun. Perwira Eropa dicatat lengkap dengan pangkat karena laporan tersebut adalah dasar kenaikan pangkat, tanda jasa, dan pensiun. Prajurit Ambon dicatat sebagian karena mereka sudah lama berada dalam struktur ketentaraan tetap. Pasukan bantuan dari Minahasa dicatat sebagai angka karena mereka direkrut secara borongan lewat kontrak dan akan dipulangkan secara borongan pula.
Yang sama sekali tidak ada dalam laporan itu adalah penduduk desa yang dilewati.
Kolom Michiels berjalan melalui Prouwo dan bermalam di sana, lalu bergerak ke Lamok keesokan paginya. Dua tempat itu kini bernama Purwo dan Lamuk, keduanya desa di Kecamatan Kaliwiro, Kabupaten Wonosobo, dan jaraknya hanya sekitar 2,4 kilometer. Pada malam 6 November 1829, seratus dua puluh orang bersenjata bermalam di salah satunya.
Kolom bergerak pada masa itu hidup dari daerah yang dilaluinya. Ia butuh beras, ayam, kayu bakar, tempat tidur, dan orang untuk memanggul perbekalan. Ia juga meninggalkan risiko: desa yang menampung pasukan kolonial hari ini bisa dianggap berpihak esok hari.
Laporan Michiels tidak menyebut satu pun dari itu. Ia mencatat jam keberangkatan, jumlah tembakan, dan taksiran kekuatan lawan.
Bahasa laporan itu juga bekerja. Diponegoro disebut hoofdmuiteling, kepala pemberontak, bukan pemimpin perlawanan. Seorang tokoh agama yang ditangkap patroli disebut vijandelijke priester, pendeta musuh, dengan tuduhan mengintai pos depan; laporan tidak menjelaskan dasar tuduhan itu maupun apa yang terjadi padanya sesudahnya. Hasil operasi disebut memulihkan rust en orde, ketenangan dan ketertiban, sebuah frasa yang dalam praktiknya berarti pulihnya kemampuan negara kolonial memungut pajak dan tenaga kerja.
Peter Carey, sejarawan Inggris dari Universitas Oxford yang menghabiskan empat puluh tahun meneliti Diponegoro dan menulis biografinya, The Power of Prophecy, memperkirakan dua juta orang Jawa terkena dampak langsung perang ini. Seperempat lahan budidaya rusak. Sekitar dua ratus ribu orang Jawa meninggal. Di pihak kolonial, sekitar delapan ribu serdadu Eropa dan tujuh ribu pasukan bantuan asal Nusantara ikut mati.
Angka dua ratus ribu itu bukan angka pasukan Menado. Sebagian terbesar perang berlangsung sebelum mereka tiba pada 1829, dan angka itu mencakup kematian akibat kelaparan, penyakit, serta kehancuran ekonomi, bukan hanya kekerasan langsung.
Yang bisa dikatakan tentang mereka lebih sempit dan lebih jelas: mereka datang pada fase terakhir, ketika pekerjaan yang tersisa adalah menutup ruang gerak seorang pemimpin yang sedang kehabisan orang. Kemenangan yang mereka bantu selesaikan membuka jalan bagi apa yang datang sesudahnya.
Yang datang sesudahnya adalah Cultuurstelsel, sistem tanam paksa yang diberlakukan mulai 1830. Petani Jawa diwajibkan menyerahkan sebagian tanah dan tenaganya untuk menanam kopi, tebu, dan nila bagi pasar Eropa. Selama tiga dasawarsa berikutnya, keuntungannya menambal utang negeri Belanda.
Perang itu, dengan kata lain, tidak berakhir pada 1830. Ia berpindah bentuk menjadi kewajiban tanam.
Laporan itu mencatat jam keberangkatan dan jumlah tembakan. Ia tidak mencatat siapa yang tidur di rumah siapa pada malam 6 November 1829.
Javasche Courant, 17 November 1829
Peter Carey, The Power of Prophecy (2007), hlm. 652-660
Bab enam · 1830-1841
Pulang, lalu delapan tahun yang sunyi
Perang berakhir pada 28 Maret 1830, ketika Diponegoro ditangkap dalam perundingan di Magelang dan diasingkan ke Manado, lalu ke Makassar.
Pasukan bantuan dipulangkan. F.V.A. de Stuers, perwira Belanda yang kelak menjadi gubernur di Maluku dan menulis catatan perang itu pada 1847, menjelaskan pola umumnya: satuan-satuan bantuan dikembalikan ke daerah asal, dan para pemimpinnya diberi pangkat atau gelar sebagai imbalan.
Di Langowan, daftar kepala lokal menempatkan Tawaijlan Sigar sebagai Hukum Kedua pada 1831 sampai 1833. Ia kembali ke pemerintahan, satu tingkat di bawah kepala distrik.
Lalu ia bertengkar dengan gereja.
Schwarz tiba di Langowan pada 1831, tahun yang sama ketika Tawalijn masuk ke jabatan itu. Riwayat zending menyebut kepala Sigar dan istrinya, sang Walian, sebagai penghalang utama pekerjaan misi pada 1832 dan 1833.
Perlawanan itu masuk akal. Bagi seorang kepala walak, agama leluhur bukan urusan keyakinan pribadi. Ia adalah dasar kekuasaan. Upacara foso, otoritas Walian, dan hak memimpin negeri terjalin menjadi satu paket. Zending datang dengan paket tandingan: sekolah, guru, dan sumber wibawa baru yang tidak bergantung pada garis keturunan lokal.
Ia tidak sendirian. H.W. Dotulong, Majoor Sonder yang memimpin seluruh pasukan Minahasa ke Jawa, tercatat sebagai salah satu penentang paling keras kekristenan di distriknya. Ia pernah berkata bahwa mengenai rakyatnya, ia tidak menyukai semua hal bagus tentang pencerahan dan peradaban itu. Yang ia takutkan, menurut sejarawan Mieke Schouten, adalah hilangnya jarak status antara dirinya dan orang-orang yang ia perintah.
Pola itu terlalu rapi untuk kebetulan. Para veteran Perang Jawa adalah kepala-kepala yang kekuasaannya paling mapan, dan justru merekalah yang paling lama menahan zending. Mereka sudah punya sumber legitimasi sendiri, langsung dari perang, dan tidak membutuhkan gereja untuk mendapatkannya.
Riwayat lokal yang sama menyebut Tawalijn diberhentikan pada 1833.
Ada satu riwayat cetak sezaman yang menyimpan cerita tentang seorang kepala Langowan pada tahun-tahun itu, ditulis dari buku harian Schwarz sendiri dan diterbitkan Nederlandsch Zendelinggenootschap pada 1860.
Pagi Tahun Baru 1835, catatan itu bercerita, para kepala Langowan, Kakas, dan Remboken hadir bersama istri masing-masing di kebaktian, lalu singgah di rumah Schwarz dan ikut bergembira ketika anak-anak sekolah menerima hadiah kecil. Malamnya, Majoor Langowan menyuruh orang memainkan alat musik Alfur dan menggelar pesta tari sampai larut, dan sebagian orang yang Schwarz harapkan berbuat lebih baik ikut menari demi menyenangkan sang Majoor. Keesokan harinya Schwarz menulis di buku hariannya bahwa ia punya banyak alasan untuk berduka.
Pada 1838, catatan yang sama mencatat sesuatu yang jauh lebih keras. Majoor Langowan diadukan kepada pemerintah oleh sejumlah besar orang yang ia perintah, dengan tuduhan salah urus dan penindasan. Tak lama setelah pengaduan itu, ia datang kepada Schwarz meminta dibaptis. Schwarz menilai waktunya tidak tepat dan menawarkan pengajaran lebih dulu.
Sang Majoor mengikuti pengajaran itu sampai, sebulan kemudian, ia benar-benar diberhentikan dari jabatannya. Begitu jabatannya lepas, ia kembali kepada agama lama dan menggelar foso, seolah hendak mengeraskan diri terhadap nasibnya. Beberapa waktu berselang ia datang lagi, rajin, dan pada Januari 1840 ia dibaptis. Akhir Mei tahun itu juga, tercatat bahwa semangatnya kendur.
Kronologi dalam riwayat zending itu tidak berimpit dengan daftar kepala Langowan, yang menempatkan pemberhentian Tawalijn pada 1833 dan baptisannya pada 1841. Dua catatan itu menceritakan lengkung yang sama, di kampung yang sama, dengan tanggal yang berbeda: seorang kepala yang jatuh, kembali ke agama leluhur, lalu masuk ke gereja.
Yang sama di kedua versi adalah urutannya. Jabatan hilang lebih dulu, baptisan datang belakangan.
Kesunyian itu punya bentuk yang mudah dijelaskan. Pemerintahan kolonial mencatat orang ketika orang itu memegang jabatan: surat pengangkatan, daftar gaji, laporan kontrolir. Begitu seseorang keluar dari jabatan, ia keluar dari kertas.
Yang berjalan terus adalah Minahasa di sekelilingnya. Pada dasawarsa itu, kewajiban menanam kopi diperketat di seluruh dataran tinggi. Penduduk diwajibkan menanam dan menyetor kopi kepada pemerintah dengan harga yang ditetapkan pemerintah pula. Jalan-jalan baru dibuka untuk mengangkut hasilnya ke pesisir. Sekolah-sekolah zending bertambah, dan bersamanya bertambah pula jumlah orang yang bisa membaca, menulis, dan bekerja di kantor.
Anak-anak muda yang lulus dari sekolah itu adalah generasi yang akan mengisi jabatan-jabatan rendah pemerintahan kolonial. Siapa pun yang ingin tetap berada di lingkaran kekuasaan pada 1840-an harus berdamai dengan mesin itu.
Pada 1841, Tawalijn berdamai.
F.V.A. de Stuers, Gedenkschrift van den oorlog op Java (1847), hlm. 246
"Leven en werkzaamheden van J.G. Schwarz, den zendeling van Langowang", Mededeelingen van het Nederlandsch Zendelinggenootschap 4 (1860)
Ariel Lopez, "Christian Conversions and Dutch Colonialism in Minahasa", Archipel 109 (2025)
Bab tujuh · 1841-1847
Menjadi Benjamin
Pada 1841, laki-laki yang delapan tahun sebelumnya menghalangi Schwarz berdiri di depan Schwarz untuk dibaptis. Sejak hari itu ia bernama Benjamin Thomas Sigar.
Pembaptisan seorang kepala bukan peristiwa pribadi di Minahasa abad kesembilan belas. Ia adalah peristiwa politik. Yang ikut berpindah bukan hanya satu orang, melainkan pengaruh, kerabat, dan sebagian besar kampung yang bergantung padanya.
Angkanya bergerak cepat sesudah itu. Pada September 1842, sekitar tiga ratus orang di Langowan telah dibaptis.
Gereja pertama kota itu ditahbiskan pada Minggu, 18 April 1847, dan Schwarz mencatat hari itu sendiri. Inspektur zending Van Rhijn datang khusus. Residen kebetulan sedang berkeliling inspeksi dan hadir bersama pengawas distrik. Hampir semua kepala di wilayah kerja Schwarz datang.
Bangunan itu paling banyak memuat empat ratus orang. Yang datang dua kali lipatnya. Orang berkerumun mengelilingi gedung, dan semua jendela serta pintu terisi.
Sesudah tengah hari, Inspektur Van Rhijn membaptis empat belas orang dewasa. Di antara mereka ada beberapa yang sudah lanjut usia, dan dua orang Walian.
Lalu, sebelum kebaktian ditutup dengan doa dan nyanyian, Majoor Langowan dan istrinya diteguhkan pernikahannya secara Kristen.
Empat kalimat dalam catatan seorang penginjil Jerman itu memuat seluruh perubahan yang sedang terjadi di dataran tinggi Minahasa: dua pemimpin agama leluhur menerima baptisan di gedung baru, kepala distrik menikahkan ulang dirinya menurut aturan agama pendatang, dan seorang residen menonton dari bangku depan.
Daftar kepala lokal mencatat Benjamin kembali menjadi Hukum Kedua pada 1841 sampai 1847, tepat pada rentang yang sama.
Dua garis itu berjalan berdampingan: garis gereja yang menanjak dan garis karier yang pulih. Tidak ada surat keputusan yang menyatakan baptisan sebagai syarat jabatan. Tetapi siapa pun yang membaca dua daftar itu bersebelahan akan melihat bahwa keduanya bergerak ke arah yang sama pada waktu yang sama.
Cara kerja Schwarz menjelaskan sebagian sebabnya. Ia tidak membangun jemaat lewat khotbah di lapangan, melainkan lewat sekolah. Anak-anak kepala dan orang berada disekolahkan, diajari membaca, menulis, dan berhitung dalam bahasa Melayu, lalu Belanda. Lulusannya menjadi guru, juru tulis, dan pegawai rendah.
Bagi pemerintah kolonial, ini murah dan efisien. Zending mencetak pegawai; pemerintah tinggal memakainya. Bagi keluarga kepala, sekolah zending adalah satu-satunya tangga naik yang tersedia. Bagi Minahasa secara keseluruhan, hasilnya adalah salah satu wilayah paling terkristenkan di Nusantara dan salah satu yang paling banyak memasok pegawai serta serdadu kepada pemerintah kolonial.
Ada harga yang dibayar di sisi lain. Foso ditinggalkan atau disembunyikan. Peran Walian menyusut menjadi urusan yang dianggap takhayul. Perempuan yang sebelumnya memegang otoritas keagamaan tertinggi kehilangan tempat itu di dalam susunan baru, yang pendetanya laki-laki dan diangkat dari luar.
Istri Benjamin adalah seorang Walian. Perubahan itu terjadi di dalam rumahnya sendiri.
Catatan lokal tentang periode ini ditulis oleh keluarga Saerang, jauh setelah peristiwanya, dan memuat pemufakatan para pemimpin Langowan mengenai tanah untuk gereja. Ia menyebut Benjamin sebagai salah satu di antara para pemimpin itu, bukan sebagai pendiri tunggal.
Enam tahun setelah baptisannya, gereja pertama Langowan berdiri. Sepuluh bulan setelah gereja itu ditahbiskan, Benjamin Thomas Sigar menjadi kepala distrik.
Ia berumur sekitar lima puluh delapan tahun.
Sejarah penginjilan Langowan, catatan keluarga Saerang
"Leven en werkzaamheden van J.G. Schwarz, den zendeling van Langowang", Mededeelingen van het Nederlandsch Zendelinggenootschap 4 (1860) dan 5 (1861)
Riwayat hidup J.G. Schwarz, Berita Manado
Fotografer tidak diketahui; Wereldmuseum Amsterdam, TMnr 10016582. CC BY-SA 3.0.
Bab delapan · Februari 1848 - Januari 1870
Majoor Langowan
Dari Februari 1848 sampai Januari 1870, Benjamin Thomas Sigar memerintah Langowan. Dua puluh dua tahun, di sebuah distrik yang menurut penggambaran sezaman termasuk yang paling tertata di Minahasa.
Gelarnya Majoor. Kata itu menyesatkan pembaca masa kini karena terdengar seperti pangkat militer, padahal bukan. Di Minahasa, Majoor adalah gelar kehormatan yang diberikan pemerintah kolonial kepada kepala distrik pribumi. Sebutan jabatannya dalam bahasa setempat adalah Hukum Besar, yaitu kepala distrik, dengan Hukum Kedua sebagai wakilnya.
Graafland mencatat asal-usul gelar itu tanpa berbelit: mula-mula Majoor diberikan kepada kepala yang ikut ke Jawa atau menyediakan banyak orang untuk Perang Jawa. Belakangan gelar yang sama diberikan karena memimpin distrik besar atau menyetor kopi paling banyak.
Kajian arsip modern menegaskan hal yang sama dari sisi pemerintah kolonial: kepala yang menyetor lebih banyak orang untuk perang diakui sebagai hukum majoor, yang menyetor lebih sedikit tetap hukum besar. Pangkat itu, sejak awal, adalah tanda terima kasih atas tenaga manusia.
Dua sumber kekuasaan itu, perang dan kopi, adalah dua hal yang sama-sama dimiliki Benjamin.
Nicolaas Graafland sendiri perlu diperkenalkan. Ia guru zending kelahiran Belanda yang datang ke Minahasa pada 1849, tinggal puluhan tahun, dan menulis De Minahassa dalam dua jilid, terbit pada 1867 dan 1869. Buku itu sampai sekarang merupakan gambaran paling rinci tentang Minahasa abad kesembilan belas: desa demi desa, jalan demi jalan, jabatan demi jabatan. Ia menulis dari dalam sistem dan membelanya, tetapi ia juga menulis apa yang ia lihat.
Pada halaman 81 jilid kedua, Graafland menyebut "Majoor tua" Langowan sebagai orang yang pernah ikut perang di Jawa. Ia menulis itu ketika Benjamin masih menjabat. Inilah satu-satunya keterangan sezaman yang menghubungkan langsung jabatan kepala distrik Langowan dengan pengalaman perangnya.
Di kalimat berikutnya, Graafland menilai sang Majoor sebagai orang baik, tetapi kurang punya tact dan kurang mahir menerima tamu. Kata Belanda tact di situ tidak berarti kebijaksanaan memimpin. Ia berarti kelihaian bergaul dan menjamu menurut ukuran Eropa: percakapan meja makan, keramahan terhadap pejabat yang singgah, kemampuan membuat tamu kulit putih merasa nyaman. Graafland membandingkan kepala-kepala pribumi berdasarkan hal itu.
Langowan yang ia gambarkan punya jalan terawat, sebuah loge atau rumah singgah untuk pejabat yang lewat, sekolah, gereja, kebun kopi yang luas, dan jaringan angkutan menuju Kakas di tepi Danau Tondano.
Tetapi Graafland juga menyebut siapa yang membangun apa. Tanggul besar di wilayah itu ia kaitkan dengan Residen Jansen dan seorang pejabat bernama Paepke Bülow. Bangunan gereja dan sekolah ia kaitkan dengan Schwarz. Yang ia tulis adalah keadaan sebuah distrik pada masa jabatan Benjamin, bukan daftar prestasi pribadi kepalanya.
Secara administratif, tempat Benjamin dalam susunan kekuasaan bisa dilihat di Regerings-Almanak, buku alamat resmi pemerintah Hindia Belanda. Edisi 1870 menempatkan Langowan sebagai distrik di dalam Afdeling Tondano, yang berada di bawah Residensi Menado, yang wilayahnya mencakup seluruh Minahasa dan Gorontalo.
Pekerjaan seorang kepala distrik dalam susunan itu tidak abstrak. Ia menerima perintah dari kontrolir dan residen lalu menerjemahkannya ke bawah: siapa yang menanam kopi, siapa yang memperbaiki jalan, siapa yang membayar pajak, siapa yang dihukum bila menolak. Ia juga yang menerima pejabat kolonial yang datang berkunjung, yang menjelaskan kenapa Graafland peduli pada soal keramahan.
Ada dua cara keliru membaca posisi itu. Menyebutnya semata pemimpin adat menghapus perannya dalam mesin kolonial. Menyebutnya semata pegawai Belanda menghapus basis kekuasaan lokalnya dan ruang tawar yang ia punya. Ia adalah keduanya sekaligus, dan justru di titik itulah kekuasaannya bekerja.
N. Graafland, De Minahassa, jilid II (1869), hlm. 81 dan 87
Regerings-Almanak voor Nederlandsch-Indië 1870
Majoor tua Langowan dan Perang Jawa, 1869.
Majoor tua Langowan dan Perang Jawa
Graafland menulis bahwa Majoor tua Langowan adalah orang baik dan pernah ikut perang di Jawa, tetapi menurut penilaiannya kurang memiliki tact dan kurang mahir menerima tamu.
Inilah satu-satunya keterangan sezaman yang menghubungkan jabatan Benjamin sesudah perang dengan pengalaman militernya. Penilaian tentang tact adalah ukuran Eropa mengenai kelihaian bergaul dan menjamu tamu, bukan ukuran kemampuan memimpin sebuah distrik.
Sumber: N. Graafland, De Minahassa, jilid II (1869), hlm. 81
Anonim; Leiden University Libraries/KITLV 1403509. CC BY 4.0.
Bab sembilan · 1848-1870
Kopi, kerja, dan kuasa
Kopi adalah alasan Minahasa penting bagi Batavia.
Sejak awal abad kesembilan belas, penduduk dataran tinggi diwajibkan menanam kopi dan menyerahkan hasilnya kepada pemerintah dengan harga yang ditetapkan pemerintah. Sistem itu berjalan puluhan tahun sebelum Cultuurstelsel diberlakukan di Jawa, dan berlanjut lama sesudahnya.
Yang menjalankannya di lapangan adalah kepala distrik.
Pada halaman 87 jilid kedua bukunya, Graafland mencatat Langowan menghasilkan cukup banyak kopi tetapi kekurangan tenaga panen. Karena itu perempuan ikut bekerja di kebun, termasuk ibu-ibu yang menggendong anak di punggung, dalam panas dan hujan.
Kalimat itu ditulis sebagai keterangan produksi. Dibaca hari ini, ia adalah keterangan tentang siapa yang menanggung beban ketika target setoran harus dipenuhi.
Di jilid pertama, Graafland merinci apa yang diterima seorang Majoor atau Hukum Besar dari jabatannya. Ia mendapat bagian dari hasil kopi distrik. Ia berhak atas satu gulden dari setiap wajib pajak. Setiap hari ia memperoleh empat sampai sepuluh orang untuk mengurus kandang, dapur, atau keperluan lain. Dan kekuasaannya lazim diwariskan kepada anak atau kerabat yang sudah lebih dulu menjadi kepala kedua.
Empat kalimat itu menggambarkan sebuah kelas, bukan sekadar sebuah jabatan.
Pengakuan paling terang justru datang dari Graafland sendiri, di halaman 276. Ia menulis bahwa penduduk tidak pernah meminta jalan, penataan negeri, atau kebun kopi. Semua itu mereka kerjakan dengan tangan sendiri, banyak tanpa bayaran, karena pemerintah kolonial menghendakinya, dan bertentangan dengan kemauan mereka.
Yang menulis kalimat itu bukan pengkritik kolonialisme. Ia guru zending yang percaya pada manfaat pemerintahan Belanda dan menghabiskan hidupnya di dalam sistem tersebut. Justru karena itu kalimatnya sulit dibantah.
Di sinilah letak Benjamin. Ia bukan perancang sistem itu dan bukan pula korbannya. Ia mata rantai yang membuatnya berjalan: orang yang menerjemahkan perintah residen menjadi tenaga penduduk, lalu menerima bagian dari hasilnya.
Tidak ada satu pun laporan yang mencatat ia memerintahkan orang dipukul, dihukum, atau dibunuh. Yang tercatat adalah struktur tempat ia berdiri selama dua puluh dua tahun, dan apa yang struktur itu ambil dari orang-orang di bawahnya.
Kata yang dipakai sumber-sumber kolonial untuk menggambarkan hasilnya adalah "kemajuan". Jalan bertambah, gereja berdiri, sekolah terisi, ekspor kopi naik. Yang tidak masuk hitungan kemajuan itu adalah hilangnya pilihan penduduk atas tenaga dan tanah mereka sendiri.
Kontroversi Benjamin Sigar, kalau memang harus dicari, tidak terletak di Jawa pada November 1829. Ia terletak di sini, di Langowan, sepanjang dua dasawarsa sesudahnya.
"Penduduk tidak meminta jalan, penataan negeri, atau kebun kopi. Semua itu mereka kerjakan dengan tangan sendiri, banyak tanpa bayaran." N. Graafland, 1869
N. Graafland, De Minahassa, jilid II (1869), hlm. 87 dan 276
N. Graafland, De Minahassa, jilid I (1867), hlm. 187-190
Jalan, sekolah, kopi, dan tenaga perempuan, 1869.
Jalan, sekolah, kopi, dan tenaga perempuan
Graafland menggambarkan Langowan dengan jalan terawat, loge, sekolah, gereja, kebun kopi, dan jaringan angkutan menuju Kakas. Ia menyebut kekurangan tenaga panen sehingga perempuan bekerja di kebun, termasuk ibu yang menggendong anak di punggung dalam panas dan hujan.
Halaman ini menggambarkan keadaan distrik pada masa jabatan Benjamin. Graafland sendiri mengaitkan tanggul besar dengan Residen Jansen dan Paepke Bülow serta bangunan misi dengan Schwarz. Kalimat tentang perempuan penggendong anak memperlihatkan siapa yang menanggung beban di balik angka produksi kopi.
Sumber: N. Graafland, De Minahassa, jilid II (1869), hlm. 87
Pengakuan kolonial tentang kerja tanpa bayaran, 1869.
Pengakuan kolonial tentang kerja tanpa bayaran
Graafland mengakui bahwa penduduk tidak meminta jalan, penataan negeri, atau kebun kopi. Semua itu mereka kerjakan dengan tangan sendiri, banyak tanpa bayaran, karena pemerintah kolonial menghendakinya dan bertentangan dengan kemauan mereka.
Ini konteks struktural bagi pemerintahan Benjamin dan seluruh kepala distrik Minahasa. Yang menulisnya adalah orang yang membela sistem tersebut, dan justru karena itu kalimatnya sulit dibantah sebagai tuduhan pihak luar.
Sumber: N. Graafland, De Minahassa, jilid II (1869), hlm. 276
Langowan, tiga sampai lima dekade kemudian
Foto tertua Langowan yang tersimpan di arsip Belanda dibuat antara 1900 dan 1924, tiga sampai lima dasawarsa setelah Benjamin pensiun. Yang terlihat di dalamnya adalah kota yang tumbuh dari tata pemerintahan pada masanya: jalan lebar, gereja, dan rumah panggung.
Fotografer tidak diketahui; Wereldmuseum Amsterdam, TMnr 60008317. CC BY-SA 3.0.
Fotografer tidak diketahui; Wereldmuseum Amsterdam, TMnr 10016583. CC BY-SA 3.0.
Fotografer tidak diketahui; Wereldmuseum Amsterdam, TMnr 60014335. CC BY-SA 3.0.
Bab sepuluh · 1870-1880
Pensiun, lalu lima baris di koran
Pada Januari 1870, Benjamin Thomas Sigar berhenti menjabat. Penggantinya adalah anaknya sendiri, Lourens Roeland Sigar.
Pergantian itu persis mengikuti pola yang dicatat Graafland: jabatan kepala distrik lazim berpindah kepada anak atau kerabat yang sudah lebih dulu menjadi kepala kedua. Kekuasaan di Minahasa abad kesembilan belas berjalan dalam keluarga.
Sepuluh tahun kemudian, sekitar Januari 1880, Benjamin meninggal pada usia kira-kira sembilan puluh tahun.
Umur itu memberi kerangka waktu bagi seluruh hidupnya. Ia lahir sekitar 1790. Ketika berangkat ke Jawa pada 1829 ia berusia sekitar tiga puluh sembilan tahun, sudah matang dan sudah memegang jabatan. Ketika dibaptis ia sekitar lima puluh satu. Ketika menjadi kepala distrik ia sekitar lima puluh delapan. Ketika pensiun ia sekitar delapan puluh.
Pada 2 Februari 1880, Soerabaijasch Handelsblad memuat berita kematiannya dari Menado. Isinya lima baris, tetapi lima baris itu memuat empat keterangan sekaligus.
Bahwa ia bekas majoor distrik Langowan. Bahwa ia ayah dari majoor yang sedang menjabat. Bahwa ia meninggal pada usia sembilan puluh tahun dan dimakamkan dengan segala penghormatan. Dan bahwa ia salah satu kepala yang ikut mengalami Perang Jawa melawan Diponegoro.
Koran itu juga menyebutnya dihormati dan dicintai rakyat. Kalimat tersebut adalah kalimat seorang koresponden koran kolonial, bukan hasil pengumpulan pendapat penduduk.
Pada periode yang sama, koran-koran yang sama memuat kabar lain dari Minahasa: kerja wajib yang ditolak penduduk, hukuman kerja umum tanpa upah, dan penyalahgunaan tenaga pendayung oleh pejabat di beberapa distrik. Tidak ada satu pun laporan semacam itu yang menyebut Langowan atau Benjamin. Tetapi keduanya terbit berdampingan, di dunia yang sama.
Berita kematian itu disalin beberapa koran lain pada Februari sampai Maret 1880, sebagaimana kebiasaan pers kolonial yang saling mengutip.
Lima baris itu adalah dokumen paling penting dalam seluruh cerita ini, dan bukan terutama karena ia menyebut Perang Jawa.
Ia penting karena menyebut hubungan ayah dan anak. Dengan menyebut Benjamin sebagai ayah dari majoor Langowan yang sedang menjabat pada 1880, koran itu mengikat satu generasi ke generasi berikutnya. Dari sanalah rantai keluarga bisa ditarik: Lourens Roeland, Philip Roeland, Philip Frederik Laurens, Dora Marie, lalu anak-anak Dora.
Sebuah obituari pendek di koran dagang Surabaya, seratus empat puluh enam tahun lalu, adalah tulang punggung silsilah yang berujung di Istana Merdeka.
Obituari Benjamin Thomas Sigar, 2 Februari 1880.
Obituari Benjamin Thomas Sigar
Bekas majoor distrik Langowan, Benjamin Thomas Sigar, yang dihormati dan dicintai rakyat, ayah dari majoor yang sekarang, telah meninggal pada usia 90 tahun dan dimakamkan dengan segala penghormatan. Ia salah satu kepala yang ikut mengalami Perang Jawa melawan Diponegoro.
Lima baris yang memuat empat keterangan: jabatan, hubungan ayah dan anak, usia, dan Perang Jawa. Kalimat tentang dihormati dan dicintai rakyat adalah karakterisasi koresponden koran. Penyebutan hubungan ayah dan anak itulah yang membuat seluruh silsilah keluarga ini bisa ditarik sampai ke masa kini.
Bab sebelas · 1879
Perang Gorontalo yang tidak ada di koran
Ada satu cerita lain tentang Benjamin Sigar yang beredar sampai sekarang, terutama di keterangan foto yang dibagikan di media sosial dan dalam penuturan yang diwariskan di lingkungan keluarga.
Ceritanya: pada 1879 ia memimpin pasukan untuk menumpas pemberontakan seorang raja di Gorontalo, lalu meninggal dalam perjalanan pulang.
Cerita itu punya bentuk yang rapi. Ia memberi seorang tua kematian yang gagah, di jalan pulang dari medan perang, bukan di tempat tidur.
Koran-koran tahun 1879 menceritakan hal lain.
Pada 1879 Benjamin sudah sembilan tahun pensiun dan berumur sekitar delapan puluh sembilan tahun. Obituarinya, yang terbit hanya beberapa bulan kemudian dan menyebut Perang Jawa lima puluh tahun sebelumnya, tidak menyinggung Gorontalo sama sekali. Sebuah ekspedisi militer yang baru saja terjadi dan menyebabkan kematiannya tentu akan menjadi kalimat pertama, bukan kalimat yang hilang.
Yang memang terjadi di Gorontalo pada tahun itu adalah keresahan. Het Nieuws van den Dag edisi 13 September 1879 memberitakan Residen Menado berangkat mendadak ke Gorontalo, kemungkinan karena pajak baru atau karena sebuah kejadian di Limboto.
Artikel yang sama memuat angka yang menutup kemungkinan adanya ekspedisi besar dari Manado: dua puluh tiga serdadu justru sedang diberangkatkan dari Menado menuju Jawa, dan hanya lima puluh sampai enam puluh prajurit yang tersisa di kota itu.
Dua bulan kemudian, Bataviaasch Handelsblad edisi 15 November 1879 menggambarkan keadaan Gorontalo sebagai sedang mendidih.
Salah satu artikel dari periode itu mengutip sebuah lagu yang beredar di kalangan penduduk. Isinya kurang lebih: pemerintah Belanda selalu mengaku adil, tetapi rakyat selalu dinyatakan salah ketika berselisih.
Itulah Gorontalo 1879 sebagaimana terekam di koran sezaman: pajak baru, pengadilan yang berat sebelah, dan kemarahan yang dinyanyikan. Bukan seorang raja pemberontak yang harus ditumpas oleh kepala distrik berusia delapan puluh sembilan tahun dari Langowan.
Cerita heroik tumbuh karena ia dibutuhkan. Pengabdian pada pemerintah kolonial adalah warisan yang canggung untuk diturunkan, apalagi setelah 1945, ketika ukuran kehormatan berubah total. Diingat sebagai panglima yang gugur dalam tugas jauh lebih mudah daripada diingat sebagai perantara pajak dan kopi.
Yang terjadi sebenarnya lebih sederhana dan, dengan caranya sendiri, lebih besar. Seorang laki-laki berusia sembilan puluh tahun meninggal di kota yang ia perintah selama dua puluh dua tahun, di tanah tempat keluarganya sudah berkuasa turun-temurun, dan koran kolonial memberinya lima baris.
Het Nieuws van den Dag, 13 September 1879
Bataviaasch Handelsblad, 15 November 1879
1870 - 2008
Sesudah Benjamin
Empat generasi berikutnya meninggalkan jejak korannya sendiri, dan jejak itu memperlihatkan kuasa keluarga berpindah bentuk: dari kepala distrik yang memungut kopi dan tenaga, ke sengketa tanah melawan pemerintah yang sama, ke jabatan sipil kolonial di Batavia dan Manado, lalu ke sebuah sekolah keperawatan di Utrecht.
Lourens Roeland Sigar
Anak yang mewarisi jabatan ayahnya, lalu kalah berperkara tanah melawan pemerintah yang ia layani.
Benjamin pensiun pada Januari 1870 dan digantikan anaknya. Graafland sudah mencatat bahwa jabatan Majoor lazim diwariskan kepada anak atau kerabat yang sudah menjadi kepala kedua, jadi pergantian ini adalah pola, bukan kebetulan.
Sembilan tahun kemudian, Lourens berhadapan dengan pemerintah yang sama di meja hijau.
Pada 1879 ia mengajukan pengakuan hak atas tanah Noongan seluas sekitar 220 bouw. Bouw adalah satuan luas kolonial yang setara sekitar 7.100 meter persegi, sehingga luas yang ia klaim mencapai kira-kira 1,56 juta meter persegi, atau 156 hektare.
Berkasnya menyatakan sebagian lahan dibuka sejak 1866 dan sebagian lagi dibeli dari penduduk pada 1874 sampai 1875.
Raad van Justitie di Ambon, pengadilan tinggi kolonial untuk wilayah timur, menolak permohonannya pada 22 April 1879 karena tenggat banding sudah lewat. Penolakan itu bersifat prosedural: ia tidak memutuskan siapa pemilik sah tanah tersebut.
Koran Het Vaderland menyoroti bahwa pejabat lain, J. Gerungan, memperoleh perlakuan lebih menguntungkan atas lahan serupa. Itu kritik pers terhadap politik agraria kolonial, bukan temuan hakim.
Perkara ini memperlihatkan batas kekuasaan seorang kepala pribumi. Selama ia menjalankan pajak, kopi, dan kerja wajib untuk pemerintah kolonial, kedudukannya aman. Begitu ia menuntut hak atas tanah dalam kerangka hukum pemerintah itu sendiri, ia kalah pada soal tenggat waktu.
Lourens tetap menjabat sampai sekitar 1884 dan meninggal pada 1910. Ia adalah generasi terakhir keluarga ini yang memerintah Langowan.
Soerabaijasch Handelsblad, 4 Juli 1879
Alasan penolakan tingkat awal, 24 Desember 1879
Komentar Het Vaderland, 25 Agustus 1879
Philip Roeland Sigar
Cucu yang meninggalkan Minahasa untuk kantor pemerintah di Batavia, lalu namanya muncul dalam berita perkara dari Singapura.
Generasi ketiga tidak lagi memerintah distrik. Ia bekerja di kantor.
Philip Roeland Sigar menjadi juru tulis di Algemeene Secretarie, sekretariat negara Hindia Belanda di Batavia, lembaga yang menyiapkan seluruh keputusan gubernur jenderal. Bagi seorang anak Minahasa pada 1870-an, itu adalah tangga karier yang tersedia berkat sekolah zending: bukan lagi kekuasaan atas tanah, melainkan penguasaan atas kertas.
Bataviaasch Handelsblad edisi 11 Desember 1878 memuat keputusan sipil yang memberhentikannya dengan hormat dari jabatan itu. Tidak ada alasan disipliner di dalamnya.
Tujuh tahun kemudian namanya muncul lagi, dalam berita yang jauh kurang menyenangkan.
Java-Bode edisi 10 April 1885 memberitakan bahwa ia dikejar otoritas Singapura sejak Mei 1882 karena dugaan penipuan senilai lima ribu dolar Meksiko, bersembunyi di rumah orang tuanya, dan menjadi subjek permintaan konsul Belanda agar ditangkap lalu diserahkan kepada pengadilan Inggris.
Dolar Meksiko adalah koin perak yang pada abad kesembilan belas menjadi alat tukar utama di pelabuhan-pelabuhan Asia, dari Kanton sampai Singapura. Lima ribu dolar adalah jumlah yang sangat besar untuk ukuran seorang bekas juru tulis.
Dua jilid Straits Settlements Government Gazette periode Januari sampai Agustus 1882, lembaran resmi pemerintah Inggris di Singapura tempat perkara semacam itu biasanya diumumkan, tidak memuat dakwaan maupun putusan atas namanya. Daftar surat tak diambil di kantor pos Singapura berulang kali memuat nama Sigar, tetapi dengan inisial P. L.
Yang tercatat, karena itu, adalah sebuah tuduhan dan sebuah permintaan penangkapan yang diberitakan pers. Beberapa tulisan sekunder menyebut ia diadili lalu kabur; keterangan itu tidak ada dalam dokumen mana pun dari masa itu.
Pada tahun berita Singapura terbit, 1885, anaknya lahir.
Java-Bode, 10 April 1885
Pemberhentian dengan hormat, Bataviaasch Handelsblad 11 Desember 1878
Philip Frederik Laurens Sigar
Cicit yang masuk sepenuhnya ke dalam birokrasi kolonial, mengirim anaknya bersekolah ke Belanda, lalu wafat di sana.
Ia lahir pada 17 Mei 1885, tahun yang sama ketika nama ayahnya muncul dalam berita perkara Singapura.
Kariernya berjalan di jalur yang sepenuhnya berbeda. Ia naik melalui birokrasi kolonial sampai menjadi Gewestelijk Secretaris atau sekretaris daerah Menado, jabatan tertinggi yang bisa dicapai pegawai pribumi di keresidenan itu, lalu menjadi administrateur pada Provinciale Secretarie Jawa Barat di Bandung.
Ia juga duduk di Volksraad, dewan rakyat yang dibentuk pemerintah kolonial pada 1918 sebagai lembaga perwakilan terbatas. Anggotanya sebagian dipilih, sebagian ditunjuk, dan kewenangannya tidak pernah lebih dari memberi nasihat. Bagi pemerintah Belanda, Volksraad adalah bukti niat baik; bagi kaum pergerakan, ia adalah panggung yang tidak berdaya.
De Amstelbode edisi 1 September 1924 memberitakan penghargaan kerajaan yang ia terima ketika menjabat sekretaris daerah Menado. Bataviaasch Nieuwsblad edisi 2 Desember 1932 memberitakan pensiunnya atas permintaan sendiri, dengan hormat dan ucapan terima kasih atas pengabdian panjang.
Pada 1933 ia mengirim anak perempuannya, Dora, yang saat itu berusia dua belas tahun, bersekolah ke Belanda.
Ia wafat di Voorburg, dekat Den Haag, pada 21 November 1946, sebagai Ridder in de Orde van Oranje-Nassau dan duda Cornelie Emelie Maengkom. Usianya enam puluh satu tahun.
Tanggal itu punya arti tersendiri. Pada November 1946, Republik Indonesia sudah berumur satu tahun dan sedang berunding di Linggarjati. Empat generasi setelah Tawalijn Sigar menyeberang ke Jawa untuk berperang di pihak Belanda, keturunannya meninggal di negeri yang mengirim perang itu, dengan bintang jasa kerajaan di namanya.
Anak perempuannya kelak menikah dengan seorang ekonom Republik dan melahirkan seorang presiden Indonesia.
Algemeen Handelsblad, 22 November 1946
Penghargaan kerajaan, De Amstelbode 1 September 1924
Pensiun atas permintaan sendiri, Bataviaasch Nieuwsblad 2 Desember 1932
Dora Marie Sigar
Lahir di kota yang diperintah wareng kakeknya, dibesarkan di Belanda, lalu menikah dengan seorang ekonom Republik.
Dora Marie Sigar lahir pada 1921 di Langowan, kota yang tujuh puluh tiga tahun sebelumnya mulai diperintah oleh Benjamin Thomas Sigar.
Pada usia dua belas tahun ia dikirim ayahnya bersekolah di Utrecht, Belanda, di sebuah sekolah menengah Kristen. Di sana ia mengambil pendidikan keperawatan, dengan keahlian merawat pasien pascaoperasi.
Itu adalah lintasan yang khas bagi anak pegawai tinggi pribumi pada 1930-an, dan sekaligus sangat langka. Hanya sedikit keluarga di Hindia Belanda yang bisa mengirim anak perempuannya menyeberangi separuh dunia untuk sekolah.
Ia bertemu Sumitro Djojohadikusumo ketika ekonom muda itu menjadi pasiennya setelah operasi usus. Sumitro kelak menjadi salah satu arsitek kebijakan ekonomi Indonesia merdeka, menteri di beberapa kabinet, dan untuk sebagian masa hidupnya, orang buangan politik.
Mereka menikah dan punya empat anak. Yang kedua bernama Prabowo Subianto, lahir 1951. Yang bungsu, Hashim Djojohadikusumo, menjadi pengusaha.
Dora seorang Kristen dan tetap Kristen sepanjang hidupnya, di sebuah keluarga yang anak-anaknya Muslim. Prabowo beberapa kali menyebut ibunya di depan publik, termasuk dengan menyanyikan lagu Maluku "Sio Mama" dalam kampanye.
Ia meninggal pada Desember 2008 dalam usia delapan puluh tujuh tahun.
Koran-koran kolonial yang memuat begitu banyak tentang leluhur laki-lakinya nyaris tidak memuat apa pun tentang dia. Itu bukan kebetulan. Pers kolonial mencatat pemegang jabatan, perkara pengadilan, dan pengumuman resmi. Perempuan yang tidak memegang jabatan masuk ke dalamnya lewat satu pintu saja: iklan kelahiran, pernikahan, dan kematian keluarga.
Dari Benjamin sampai Dora, bentuk kuasa dalam keluarga ini berubah tiga kali. Dari kepala adat yang menjadi perantara kolonial, ke pegawai sipil kolonial, lalu ke keluarga terdidik yang berpindah antara Hindia dan Eropa. Yang berpindah bukan hanya orangnya, melainkan juga cara mereka berhubungan dengan negara.
Dora Marie Sigar, Wikipedia
Kakek-nenek Prabowo di Den Haag, Historiek
1790 - sekarang
Enam generasi, dari Langowan ke Istana
Lima generasi memisahkan Benjamin Thomas Sigar dari Prabowo Subianto. Sepanjang rentang itu, bentuk kekuasaan keluarga ini berubah tiga kali: dari kepala distrik yang memungut kopi dan tenaga, ke pegawai sipil kolonial di Batavia dan Manado, lalu ke keluarga terdidik yang berpindah antara Hindia dan Eropa.
-
Rekonstruksi modern, dibuat 2024. Bukan potret sezaman. Benjamin Thomas Sigar
Majoor atau Hukum Besar Langowan, 1848-1870 · Langowan, Minahasa
Berangkat ke Jawa pada 1829 sebagai bagian pasukan bantuan Minahasa di pihak kolonial. Dibaptis pada 1841, memerintah Langowan selama dua puluh dua tahun, meninggal pada usia sekitar sembilan puluh tahun.
-
Langowan sekitar 1900, distrik yang ia warisi dari ayahnya. Lourens Roeland Sigar
Majoor distrik Langowan, 1870-1884 · Langowan, Minahasa
Mewarisi jabatan ayahnya pada Januari 1870. Pada 1879 mengajukan hak atas 156 hektare tanah Noongan dan ditolak pengadilan tinggi kolonial di Ambon karena tenggat banding sudah lewat.
-
Koran kolonial: satu-satunya tempat generasi ini meninggalkan jejak. Philip Roeland Sigar
Juru tulis Algemeene Secretarie, Batavia · Batavia
Generasi pertama yang meninggalkan Minahasa untuk kantor pemerintah di Batavia. Diberhentikan dengan hormat pada 1878. Namanya muncul dalam pemberitaan tuduhan penipuan di Singapura pada 1885.
-
Keresidenan Menado, wilayah tempat kariernya mencapai puncak. Philip Frederik Laurens Sigar
Gewestelijk Secretaris Menado, anggota Volksraad · Manado, Bandung, Voorburg
Pejabat tinggi pribumi di keresidenan Menado, kemudian administrateur di Bandung, dan anggota dewan rakyat bentukan kolonial. Menerima penghargaan kerajaan pada 1924. Wafat di Belanda pada November 1946.
-
Langowan awal abad kedua puluh, kota kelahirannya. Dora Marie Sigar
Perawat · Langowan, Utrecht, Jakarta
Lahir di Langowan, dikirim bersekolah ke Utrecht pada usia dua belas tahun, dan belajar keperawatan pascabedah. Menikah dengan ekonom Sumitro Djojohadikusumo dan memiliki empat anak.
-
Presiden ke-8 Republik Indonesia. Prabowo Subianto
Presiden Republik Indonesia · Jakarta
Anak kedua Dora Marie Sigar. Pada 23 Juli 2026 ia memakai istilah Londo Ireng untuk menyebut wartawan, pengamat, dan pegiat LSM, seratus sembilan puluh tujuh tahun setelah wareng dari garis ibunya berlayar ke Jawa untuk berperang di pihak Belanda.
Penutup · sekali lagi, Senayan
Londo Ireng, sekali lagi
Kembali ke Jakarta Convention Center, Kamis malam itu.
Istilah yang dipakai presiden bukan istilah kosong. Londo Ireng punya rujukan yang sangat konkret dalam sejarah Nusantara, dan rujukannya adalah orang-orang seperti Tawalijn Sigar: kepala kampung yang menandatangani kontrak, mengumpulkan seratus dua puluh anak muda dari negerinya, dan mengantar mereka ke kapal.
Yang menarik adalah betapa sedikitnya pilihan yang mereka punya, dan betapa besarnya imbalan bila memilih dengan benar.
Pada 1829, Indonesia belum ada. Yang ada adalah walak, sultan, kompeni, dan zending. Bagi seorang kepala di Minahasa, "bangsa" yang bisa ia khianati atau ia bela bukanlah Indonesia, melainkan negerinya sendiri seluas beberapa kampung. Ia mempertahankan negeri itu dengan cara yang tersedia baginya: berunding dengan kekuatan terbesar di sekitarnya, lalu meminta bagian.
Itulah sebabnya kategori Londo Ireng, kalau dipakai untuk masa lalu, adalah kategori yang tepat tetapi berat. Ia benar-benar menggambarkan sebuah kelas: perantara pribumi yang tanpa mereka kekuasaan kolonial mustahil bekerja. Belanda tidak pernah cukup banyak untuk memerintah Nusantara sendirian. Mereka memerintah lewat kepala distrik, juru tulis, mandor, dan serdadu bayaran yang lahir di sini.
Dan itu pula sebabnya kategori yang sama menjadi licin ketika dipindahkan ke masa kini. Pada 1829, Londo Ireng adalah orang yang memanggul senapan untuk kekuatan asing yang sedang menembaki penduduk. Pada 2026, kata itu ditujukan kepada orang yang menulis berita, menyusun laporan, dan mengajukan pertanyaan.
Jarak antara dua hal itu adalah jarak antara sejarah dan retorika.
Sejarahnya sendiri, seperti hampir semua sejarah keluarga di negeri ini, jauh lebih berlumpur daripada versi mana pun yang enak diceritakan. Ada laki-laki yang menghalangi zending lalu dibaptis. Ada anak yang mewarisi jabatan lalu kalah berperkara melawan pemerintah yang ia layani. Ada cucu yang dikejar tuduhan penipuan. Ada cicit yang menerima bintang jasa dari Ratu Belanda dan mati di Voorburg satu tahun setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan. Ada perempuan yang lahir di Langowan, sekolah di Utrecht, dan melahirkan seorang presiden Republik.
Tidak ada satu pun dari mereka yang bisa disederhanakan menjadi satu kata.
Termasuk, barangkali, orang-orang yang minggu itu disebut Londo Ireng dari atas podium.