Bab satu · 23 Juli 2026
Kalimat yang diucapkan di Senayan
Kamis malam, 23 Juli 2026, di Jakarta Convention Center, Presiden Prabowo Subianto berpidato pada peringatan hari lahir ke-28 Partai Kebangkitan Bangsa. Di tengah pidato itu ia menyebut sebuah istilah yang sudah lama tidak terdengar di podium resmi.
"Kita tahu ada orang-orang Indonesia yang senang mengabdi dan berbakti kepada bangsa lain," katanya. "Itu yang dulu kita sebut Londo Ireng. Iya, yang ikut Belanda perang lawan kita, Londo-Londo Ireng ini sampai sekarang masih ada, hanya dia sekarang pakai baju lain kan."
Baju lain itu ia sebutkan satu per satu: wartawan, jurnalis, pengamat, LSM.
Londo ireng adalah bahasa Jawa untuk "Belanda hitam". Istilah itu dipakai orang kampung di Jawa untuk menyebut sesama pribumi yang bekerja bagi pemerintah kolonial: serdadu bayaran, mandor perkebunan, juru tulis kantor residen, priyayi yang gajinya datang dari Batavia.
Kulitnya sama dengan kulit orang yang ia perintah, tetapi perintahnya datang dari tempat lain. Sejak awal, sebutan itu dipakai untuk menuduh.
Yang membuat kalimat presiden itu tajam adalah bagian tengahnya: "yang ikut Belanda perang lawan kita". Ia tidak sedang berbicara tentang orang yang sekadar bekerja untuk Belanda. Ia sedang berbicara tentang orang yang mengangkat senjata untuk Belanda.
Aliansi Jurnalis Independen menyebut istilah itu merendahkan dan mendelegitimasi kerja jurnalistik, lalu meminta Prabowo meminta maaf. Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia mengingatkan bahwa kalimat seorang presiden punya bobot politik yang bisa membuka jalan bagi persekusi. Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia membacanya sebagai tanda kepala negara yang antikritik.
Tetapi ada satu hal lain yang tidak muncul dalam perdebatan minggu itu.
Ibu Presiden Prabowo bernama Dora Marie Sigar. Ia lahir pada 1921 di Langowan, sebuah kota kecil di dataran tinggi Minahasa, Sulawesi Utara, dari keluarga Kristen yang sudah beberapa turunan berada di lingkaran pemerintahan.
Ayah Dora, Philip Frederik Laurens Sigar, adalah pegawai tinggi pemerintah kolonial dan anggota Volksraad, dewan rakyat bentukan Belanda di Batavia. Dora dikirim bersekolah ke Belanda pada usia 12 tahun, belajar perawatan pascabedah di Utrecht, lalu menikah dengan ekonom Sumitro Djojohadikusumo.
Naik lima generasi dari Dora, di ujung garis keluarga itu, ada seorang laki-laki yang meninggal di Langowan sekitar Januari 1880 pada usia kira-kira 90 tahun. Namanya Benjamin Thomas Sigar.
Pada 2 Februari 1880, koran Soerabaijasch Handelsblad memuat berita kematiannya dari Manado. Isinya lima baris. Salah satu barisnya berbunyi: ia adalah salah satu pemimpin lokal yang ikut mengalami Perang Jawa melawan Diponegoro.
Ia tidak ikut perang itu di pihak Diponegoro. Ia ada di pihak sebelahnya, sebagai salah satu komandan prajurit Minahasa yang masuk ke dalam pasukan bantuan yang dikirim Residen Manado untuk membantu tentara kolonial menumpas perlawanan di Jawa. Dalam bahasa yang dipakai presiden di Senayan, ia adalah orang Indonesia yang ikut Belanda perang lawan kita.
Laporan ini bukan tentang dosa turunan. Tidak ada satu pun cabang hukum atau moral yang memindahkan tanggung jawab seorang laki-laki abad ke-19 kepada cicit-cicitnya. Laporan ini tentang istilah itu sendiri: dari mana ia datang, siapa yang sebenarnya ia tunjuk, dan apa yang terjadi pada seseorang ketika ia menjadi Londo Ireng.
"Yang ikut Belanda perang lawan kita." Lima generasi di atas presiden, seseorang persis melakukan itu.
Pidato Prabowo di Harlah ke-28 PKB, 23 Juli 2026
Reaksi organisasi pers dan bantuan hukum, Kompas 26 Juli 2026
Obituari Benjamin Thomas Sigar, Soerabaijasch Handelsblad 2 Februari 1880
Empat hal yang perlu diketahui lebih dulu
-
Londo Ireng, "Belanda hitam", adalah ejekan lama untuk orang pribumi yang bekerja bagi kekuasaan kolonial. Prabowo memakainya untuk wartawan, pengamat, dan LSM pada 23 Juli 2026.
-
Benjamin Thomas Sigar merupakan leluhur Prabowo lima generasi di atas garis ibu. Menurut obituarinya pada 1880, ia adalah kepala distrik Langowan yang pernah ikut Perang Jawa melawan Diponegoro di pihak Belanda.
-
Pada 6 dan 7 November 1829, 50-an pasukan bantuan Manado bergerak bersama Mayor Michiels memburu Diponegoro di wilayah yang kini Kecamatan Kaliwiro, Wonosobo.
-
Sebagai Majoor Langowan pada 1848 sampai 1870, ia menerima bagian hasil kopi distrik, satu gulden dari tiap wajib pajak, dan empat sampai 10 tenaga kerja setiap hari.
Bab dua · sebelum 1841
Namanya bukan Benjamin
Ada satu masalah kecil dengan kalimat "Benjamin Sigar ikut Perang Jawa". Pada 1829, orang itu belum bernama Benjamin.
Daftar kepala Langowan menyebutnya Tawalijn. Dalam beberapa salinan ejaannya Tawaijlan Sigar. Itu nama Minahasa, dari dunia sebelum baptisan, sebelum sekolah misionaris—sekolah misi Protestan—dan sebelum berdirinya gereja di Langowan.
Nama Benjamin Thomas melekat padanya setelah ia dibaptis pada 1841 oleh Johann Gottlieb Schwarz. Sosok ini adalah penginjil kelahiran Jerman yang dikirim Nederlandsch Zendeling Genootschap, lembaga misionaris Belanda, dan tiba di Langowan pada 1831.
Ia bertahan di kota itu selama hampir tiga dasawarsa dan menjadi tokoh yang mengubah wajah keagamaan seluruh dataran tinggi Minahasa.
Selisih 12 tahun itu penting. Menyebut "Kapitein Benjamin Sigar" untuk peristiwa 1829 berarti memasang nama yang belum ia terima, sekaligus memasang identitas yang keliru. Benjamin adalah nama seorang Kristen yang sudah lama bekerja di bawah pemerintah kolonial; Tawalijn adalah nama seorang pemimpin walak—wilayah adat yang menjadi satuan politik di Minahasa sebelum pemerintahan kolonial membentuk distrik-distrik—yang pada masa itu dikenal sebagai salah satu tokoh yang menghambat misionaris—penyebaran agama Kristen Protestan oleh para misionaris Belanda.
Untuk mengerti siapa Tawalijn pada 1829, perlu dibayangkan Minahasa sebelum ia menjadi wilayah Kristen. Masyarakatnya terbagi ke dalam satuan-satuan wilayah bernama walak, dalam ejaan Belanda ditulis balak.
Setiap walak dipimpin kepala yang kekuasaannya bersandar pada keturunan, kemampuan perang, dan restu para pemuka agama leluhur.
Pemuka agama itu disebut Walian. Mereka memimpin foso—upacara yang mengatur panen, penyembuhan, kelahiran, dan kematian. Perempuan lazim memegang jabatan itu, dan seorang Walian bisa lebih berpengaruh daripada kepala walak.
Riwayat misionaris menyebut istri Sigar adalah seorang Walian. Riwayat yang sama menempatkan pasangan itu sebagai penghalang utama pekerjaan Schwarz di Langowan pada 1832 dan 1833.
Jadi pada tahun-tahun perang, laki-laki ini adalah elite adat dari masyarakat yang belum Kristen, yang rumah tangganya sendiri merupakan pusat agama lama. 20 tahun kemudian ia adalah kepala distrik Kristen dengan gelar bergaya Eropa, yang wilayahnya penuh sekolah dan gereja.
Yang menyeberang ke Jawa pada 1829 adalah Tawalijn Sigar. Benjamin Thomas adalah nama yang ia terima 12 tahun kemudian.
"Leven en werkzaamheden van J.G. Schwarz, den zendeling van Langowang", Mededeelingen van het Nederlandsch Zendelinggenootschap, jilid 5 (1861), disusun dari buku harian Schwarz
Berita kematian J.G. Schwarz, zendeling Langowang, wafat 1 Februari 1859 di Menado pada usia 58 tahun setelah lebih dari 25 tahun bertugas; laporan Batavia 10 Maret 1859, Leydse courant 29 April 1859
Laporan tahunan Nederlandsch Zendelinggenootschap yang menyebut Schwarz sebagai zendeling Langowang, Rotterdamsche courant 23 Juli 1859
Sejarah penginjilan Langowan, catatan keluarga Saerang
Sanggar Apapuhang / Alffian Walukow. CC BY-SA 4.0.
Bab tiga · 26 Januari 1829
Sembilan kontrak dari Manado
Pada 26 Januari 1829, Residen Manado D.F.W. Pietermaat menulis surat. Residen adalah pejabat Belanda tertinggi di sebuah keresidenan, setingkat gubernur wilayah. Keresidenan Manado, ketika itu mencakup seluruh Minahasa sampai Gorontalo.
Isi surat itu: ia mengirim sembilan kontrak perekrutan pasukan bantuan untuk perang di Jawa.
Perang Jawa sudah memasuki tahun kelima. Diponegoro memulainya pada 1825 dan selama tiga tahun pertama membuat pemerintah kolonial nyaris kehabisan napas. Serdadu Eropa mati bukan terutama karena peluru, melainkan karena disentri dan malaria. Kas negara terkuras. Batavia lalu memakai jalan yang sudah lama mereka kenal: mendatangkan orang bersenjata dari pulau lain.
Pasukan semacam itu disebut hulptroepen, pasukan bantuan. Di Minahasa mereka dikenal sebagai Pasukan Tulungan, dari kata tulung, menolong. Nama itu manis. Kerjanya tidak.
Ada alasan praktis di balik pemilihan orang Minahasa. Mereka tidak bisa berbahasa Jawa, tidak punya kerabat di desa-desa Kedu dan Bagelen, dan tidak punya ikatan apa pun dengan Kesultanan Yogyakarta. Pasukan yang tidak bisa bercakap-cakap dengan penduduk local adalah pasukan yang sulit dibujuk untuk membelot. Mereka juga jauh lebih murah daripada serdadu Eropa.
Dari sembilan kontrak yang disebut Pietermaat, hanya satu yang sampai ke tangan pembaca hari ini secara utuh, yaitu kontrak Tondano. Isinya rinci: 120 orang dari Balak Tondano ditambah sekitar 23 rekrutan prajurit baru, berangkat dengan schooner Sirius, dipimpin oleh Hukum Kedua Alexander Wuisang.
Hukum Kedua adalah jabatan wakil kepala distrik dalam susunan pemerintahan Minahasa saat itu. Bahwa seorang wakil kepala distrik memimpin kontingen ke medan perang memberi tahu banyak hal tentang bagaimana perekrutan itu bekerja: yang mengumpulkan orang bukan tentara Belanda, melainkan kepala-kepala lokal.
Kontrak kedua yang tercetak, untuk Tondano-Toulimambot, menyebut Abraham Dotulung beserta jajaran perwira lokalnya, termasuk Johannis Sangare, Kawilarang, dan seorang Hukum bernama Jacob. Nama-nama itu adalah nama keluarga yang sampai hari ini masih dikenal di Minahasa.
Surat Pietermaat sampai kepada kita karena dicetak ulang oleh Everhardus Cornelis Godée Molsbergen. Ia sejarawan dan arsiparis Belanda yang memimpin Landsarchief di Batavia, lembaga arsip negara yang kelak menjadi Arsip Nasional Republik Indonesia. Pada 1928 Godée Molsbergen menerbitkan Geschiedenis van de Minahassa tot 1829, sebuah buku yang sebagian besar isinya adalah salinan dokumen asli dari lemari arsip itu. Halaman 196 sampai 199 memuat surat perekrutan tersebut.
Kontrak-kontrak itu memperlihatkan cara kerja perekrutan. Pemerintah kolonial tidak menarik wajib militer langsung dari penduduk, melainkan berunding dengan kepala walak, menandatangani kontrak, dan menyerahkan pengumpulan orang kepada kepala adat itu di kampungnya sendiri.
Bagi seorang kepala adat, kontrak semacam itu menguntungkan. Yang pulang membawa pasukan biasanya pulang dengan pangkat, gelar, atau keduanya. Nicolaas Graafland, guru misionaris yang menulis buku paling rinci tentang Minahasa abad ke-19, mencatat bahwa gelar Majoor mula-mula diberikan kepada kepala adat yang ikut ke Jawa atau menyediakan banyak orang untuk perang itu.
Gelar Majoor yang kelak dipakai Benjamin Sigar berasal dari mekanisme tersebut. Ariel Lopez, sejarawan yang meneliti Minahasa abad ke-19, mencatat bahwa kepala adat yang menyediakan lebih banyak orang diakui sebagai hukum majoor, sedangkan yang menyediakan lebih sedikit tetap sebagai hukum besar. Tolak ukur pangkat kolonial di Minahasa diukur dari berapa banyak anak muda yang bisa dikirim seorang kepala adat berperang di tanah Jawa.
Ukuran keseluruhannya tercatat dalam sejarah resmi perang itu sendiri. De Java-oorlog van 1825-30, karya Louw dan De Klerck yang diterbitkan Bataviaasch Genootschap pada 1905 dan disusun dari arsip Staf Umum, menulis bahwa tidak ada tempat mana pun di Nusantara yang penyediaan pasukan bantuannya selancar Minahasa. Para kepala adat di sana bersukarela menyediakan lebih dari 1.400 orang untuk berperang.
Satu syarat disebut tegas: tidak seorang pun boleh diterima secara administratif kalau ia belum menyatakan diri sepenuhnya bersedia bertempur di Jawa. Menurut laporan Residen, semangat para kepala adat ini begitu besar sampai anak-anak pun ditawarkan.
Sebelum berangkat dari Manado, pasukan itu sudah berseragam lengkap: jas pendek, celana, dan topi lapangan.
Dan buku itu menyebut dua nama. Kepala yang mengantar pasukan Minahasa ke Jawa adalah Lucas Polenkalim dan Hermanus Willem Dotulong. Keduanya belum diberi pangkat saat berangkat; detail alasannya tak dipaparkan Secara resmi pemerintah di Batavia. Residen sempat mengusulkan agar Polenkalim diberi tanda penghargaan, karena dialah yang paling gigih mengusahakan keberhasilan pemberangkatan ini.
Dotulong adalah Majoor Sonder yang menjabat dari 1824 sampai 1861. Dan dalam kajian sejarah modern ia disebut sebagai pemimpin seluruh rombongan Minahasa.
Dua nama itu penting untuk menempatkan Sigar, leluhur Prabowo, pada ukuran yang benar. Kepala adat wilayah Langowan bukanlah panglima pasukan Minahasa secara keseluruhan. Ia hanya salah satu dari sekian kepala walak yang menyetor orang ke dalam rombongan besar itu.
Kontrak Langowan sendiri tidak termasuk dalam bagian yang dicetak Godée Molsbergen. Yang tercetak hanya Tondano. Delapan kontrak lain, termasuk milik walak-walak lain di dataran tinggi, tinggal di arsip yang tak bisa kami akses.
Godée Molsbergen, Geschiedenis van de Minahassa tot 1829 (1928), hlm. 196-199
N. Graafland, De Minahassa, jilid I (1867), hlm. 187-190
Ariel Lopez, "Christian Conversions and Dutch Colonialism in Minahasa", Archipel 109 (2025)
P.J.F. Louw & E.S. de Klerck, De Java-oorlog van 1825-30, jilid IV (1905), hlm. 71-73
Desiré Heyse menurut Cronenberg & Wolff; kartografi Pieter Melvill van Carnbee; Rijksmuseum. CC0.
Bab empat · 10 Maret 1829
141 orang di atas Sirius
Pada 10 Maret 1829, Javasche Courant memberitakan sebuah kedatangan di pelabuhan Semarang. Kapal Schooner Sirius merapat dari Manado membawa 141 orang pasukan bantuan dan rekrutan baru.
Javasche Courant adalah koran resmi pemerintah Hindia Belanda yang terbit di Batavia. Isinya pengumuman jabatan, daftar kapal masuk dan keluar, harga komoditas, dan laporan militer dari medan perang. Koran itulah yang membuat perang Diponegoro bisa dilacak hari ini hampir minggu demi minggu.
Schooner adalah kapal layar bertiang dua dengan lambung ramping, cepat, dan tidak besar. Menempatkan 141 orang bersenjata di atas kapal seukuran itu berarti geladak yang penuh sesak selama pelayaran hampir 1.600 kilometer menyusuri Laut Sulawesi, Selat Makassar, dan Laut Jawa.
Sebagian besar penumpangnya belum pernah meninggalkan Minahasa. Mereka berangkat dari daerah berketinggian sejuk menuju dataran rendah Jawa yang panas, ke sebuah perang yang bahasanya tidak mereka mengerti.
Pengiriman itu tidak berhenti pada satu kapal. Pada 30 Juni 1829, Schooner Diana tiba melalui Manado, Buru, dan Makassar membawa 130 orang pasukan bantuan lagi.
Pada tanggal yang sama, Javasche Courant memuat penilaian Letnan Jenderal Hendrik Merkus de Kock, panglima tertinggi sekaligus wakil gubernur jenderal Hindia Belanda: pasukan bantuan yang berturut-turut dikirim Residen Manado memberi jasa yang baik, walaupun mereka masih muda dan belum banyak terlatih.
Penilaian itu ditulis dalam kerangka kebutuhan militer De Kock sendiri, dan diukur dari kegunaan pasukan bantuan bagi kampanyenya.
De Kock adalah arsitek benteng stelsel, strategi yang mengubah jalannya perang. Alih-alih mengejar Diponegoro dalam pertempuran besar, pasukan kolonial membangun ratusan benteng kecil yang saling terhubung, memotong wilayah menjadi kotak-kotak, lalu menyisir tiap kotak dengan kolom bergerak.
Perlawanan yang mengandalkan kecepatan dan dukungan desa perlahan kehabisan ruang, pangan, dan tempat berteduh.
Strategi itu rakus tenaga manusia. Setiap benteng butuh penjaga, setiap kolom butuh pengangkut, penunjuk jalan, dan pasukan pengaman. Di sinilah pasukan bantuan dari luar Jawa menemukan tempatnya.
Ketika kapal Sirius merapat pada Maret 1829, perlawanan Diponegoro sudah menyusut. Sebagian besar bangsawan pendukungnya telah menyerah atau ditangkap. Enam bulan kemudian, pada 17 September 1829, pasukannya kalah telak di Siluk, selatan Yogyakarta, dan sesudah itu pertempuran terbuka praktis berhenti total.
Ke mana kontingen Minahasa dikirim sesudah mendarat, tercatat dalam sejarah resmi perang itu. Manado tiba paling akhir di antara semua daerah, baru pada penghujung Maret 1829, dengan dua detasemen berkekuatan total 421 orang, dipimpin tiga kapten dan enam letnan.
Pada 14 April 1829, kedua detasemen itu berbaris bersama-sama ke Magelang di bawah pengawalan Letnan De Stürler. Dari Magelang mereka dikirim ke Menoreh, perbukitan di sebelah barat Yogyakarta yang membentang sampai Kulon Progo.
Di sana, rombongan itu dipecah. Atas permintaan Kolonel Cleerens, mereka yang tidak bersenjata senapan ditinggal di Menoreh; sisanya melanjutkan perjalanan ke Kedungkebo, markas Cleerens di Bagelen.
Sejak titik itu, orang-orang Minahasa tersebar ke dalam kolom-kolom bergerak sebagai satuan-satuan kecil. Catatan operasi menyebut mereka grup-grup kecil: 17 orang prajurit Manado di kolom bergerak bersama 111 jager; 50 orang Manado lainnya yang baru tiba dikirim menutup jalan tembus di celah Gunung Mergalunyu. Sisanya lagi bertempur berdampingan dengan orang Madura, Jawa, dan kavaleri di Ngangulan.
Kolonel Cochius, yang memegang salah satu komando utama, menulis bahwa ia mempunyai 80 orang Manado yang sudah lama bertugas dan selalu memberi pengorbanan luar biasa. Mereka dipimpin seorang letnan Ambon bernama Markus. Cochius menambahkan satu keterangan yang menjelaskan banyak hal tentang cara pasukan kolonial dikelompokkan: orang-orang ini semuanya Kristen, dan mereka tidak menganggap diri lebih rendah daripada orang Ambon.
Pengejaran itu berlangsung di jalan setapak dan punggung bukit, melewati desa-desa kecil yang namanya tidak muncul di buku sejarah mana pun, dan dijalankan oleh satuan-satuan kecil yang bergerak cepat.
Untuk pekerjaan itulah 50 orang Manado dikirim bersama seorang mayor muda ke pedalaman Bagelen pada awal November 1829.
Javasche Courant, 10 Maret 1829
Javasche Courant, 30 Juni 1829
P.J.F. Louw & E.S. de Klerck, De Java-oorlog van 1825-30, jilid IV (1905), hlm. 71-73
Maret 1829 - Maret 1830
Ke mana mereka sebenarnya pergi
Nama-nama desa dalam laporan operasi November 1829 ditulis dengan ejaan Belanda dan selama hampir dua abad dianggap tidak terlacak. Laporan itu sendiri menyebut tiga jangkar yang masih ada sampai kini, yaitu Bagelen, Kaliwiro, dan Plamjarang. Dari ketiganya, hampir seluruh rute pengejaran bisa dikenali kembali dan diletakkan di peta sebenarnya.
Operasi militer 6-7 November 1829 seluruhnya berlangsung di dalam kotak sekitar 20 kilometer di Wonosobo selatan, di jalan-jalan yang sampai hari ini masih menghubungkan desa-desa yang sama. Garis merah pada peta berikut mengikuti jalur darat yang benar-benar ada, bukan garis lurus antartitik.
-
sebelum 1829
Langowan
Kini Langowan, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara.
Sebuah kota di dataran tinggi Minahasa, sekitar 700 meter di atas permukaan laut, dikelilingi tanah vulkanik yang subur di kaki Gunung Soputan. Di sinilah keluarga Sigar berkuasa turun-temurun.
Pada 1829 Langowan adalah sebuah walak, satuan wilayah adat Minahasa yang dipimpin kepala dengan otoritas turun-temurun. Belum ada gereja. Belum ada sekolah. Yang ada adalah rumah panggung, kebun, dan upacara foso yang dipimpin para Walian.
Lalu 20 tahun kemudian, tempat yang sama sudah menjadi distrik dalam Afdeling Tondano dengan jalan yang bisa dilalui kereta, sebuah loge untuk pejabat yang singgah, gereja, sekolah, dan kebun kopi yang menyetor ke pemerintah.
Dari kota inilah Tawalijn Sigar berangkat, dan ke kota ini pula ia kembali. 92 tahun setelah kematiannya, di kota yang sama, lahir seorang anak perempuan bernama Dora Marie Sigar, ibu dari Prabowo Subianto.
-
Januari - Maret 1829
Manado
Kini Manado, Kota Manado, Sulawesi Utara.
Pelabuhan tempat semuanya dimulai. Dari kantor residen di kota inilah, D.F.W. Pietermaat menandatangani sembilan kontrak perekrutan pada 26 Januari 1829.
Manado pada 1829 adalah kota kecil dengan benteng, gudang, dan dermaga, yang menghubungkan dataran tinggi penghasil kopi dengan jaringan pelayaran kolonial. Jarak dari Langowan ke pelabuhan ini sekitar 50 kilometer, ditempuh berjalan kaki melewati punggung pegunungan.
Kontrak Tondano yang dicetak Godée Molsbergen menyebut 120 orang ditambah sekitar 23 orang rekrutan tambahan, dipimpin Hukum Kedua Alexander Wuisang. Kontrak lain menyebut Abraham Dotulung dan para perwira lokalnya.
Orang-orang yang ada di dermaga ini pada awal 1829 dikumpulkan oleh kepala walak masing-masing. Tentara kolonial hanya menerima mereka menandatangani kontrak di kantor residen.
-
10 Maret 1829
Semarang
Kini Semarang, Kota Semarang, Jawa Tengah.
Kapal Schooner Sirius merapat di Semarang pada 10 Maret 1829, membawa 141 orang pasukan bantuan dan rekrutan dari Manado.
Garis pada peta ini menandai hubungan dua pelabuhan, bukan haluan kapal yang sebenarnya. Yang dicatat koran adalah keberangkatan dan kedatangan, jarak sekitar 1.600 kilometer yang ditempuh menyusuri Laut Sulawesi, Selat Makassar, dan Laut Jawa.
Semarang adalah pintu masuk utama pantai utara Jawa: pelabuhan dagang, garnisun, dan titik bongkar bagi pasukan yang didatangkan dari luar pulau. Dari sini pasukan bergerak ke pedalaman lewat jalan raya pos yang dibangun Daendels 20 tahun sebelumnya.
Pada 30 Juni 1829, kapal Schooner Diana menyusul melalui Manado, Buru, dan Makassar dengan 130 orang pasukan bantuan lagi.
Sumber: Javasche Courant, 10 Maret 1829
-
17 September 1829
Siluk
Kini Siluk, Desa Selopamioro, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul, DIY.
Dari Semarang, medan perang berada sekitar 150 kilometer ke selatan. Garis pada peta mengikuti jalan darat yang menghubungkan pelabuhan itu dengan lembah selatan Yogyakarta, melewati Ambarawa, Magelang, dan Muntilan.
Di Siluk, di tepi Kali Oya, pada 17 September 1829 berlangsung pertempuran yang praktis menamatkan perlawanan bersenjata Diponegoro. Sekitar 1500\ serdadu kolonial dalam tiga kolom bergerak berhadapan dengan sekitar 300 pasukan Diponegoro yang sebagian besar berkuda.
Kolonel Cochius memimpin di pihak kolonial, dibantu Letnan Kolonel Le Bron de Vexela dan Bernard Sollewijn. Di pihak Diponegoro ada Sentot Prawirodirdjo dan Pangeran Prabuningrat.
54 orang tewas di masing-masing pihak. Pangeran Prabuningrat termasuk yang gugur, bersama tujuh orang bangsawan lain. Diponegoro lolos ke barat menyeberangi Kali Progo; Sentot mundur ke selatan.
Sepanjang September dan Oktober, satu demi satu orang dekat Pangeran Diponegoro menyerah. Sesudah itu pasukan kolonial tidak lagi menghadapi kesatuan besar, melainkan bergerak dalam kolom-kolom kecil mengikuti kabar tentang posisi Diponegoro.
Sejumlah tulisan modern menempatkan Pasukan Tulungan dari Minahasa di pertempuran ini. Laporan sezaman tentang Siluk hanya menyebut kolom dan komandan Eropa tanpa merinci satuan bantuan yang menyertainya, sehingga kehadiran mereka di Siluk belum bisa dipastikan.
-
21 September 1829
Gunung Kelir
Kini Gunung Kelir, Kecamatan Girimulyo, Kabupaten Kulon Progo, DIY.
Empat hari setelah kekalahan di Siluk, rombongan yang tercerai-berai bergerak ke barat laut, menyeberangi Kali Progo, menuju perbukitan Menoreh. Gunung Kelir di Kecamatan Girimulyo, Kulon Progo, berada di punggung perbukitan itu, sekitar 30 kilometer dari Siluk.
Di sana, pada 21 September 1829, Pangeran Ngabehi dan dua putranya dibunuh. Kepala mereka dipenggal dan dipasang pada bambu, tubuhnya dilemparkan ke jurang.
Peter Carey, yang merujuk laporan Letnan Kolonel Cleerens, menyebut pelakunya hanya sebagai sebuah "Indonesian barisan". Istilah itu perlu diterjemahkan dengan hati-hati: yang dimaksud adalah satuan barisan pribumi, yaitu pasukan bersenjata yang direkrut pemerintah kolonial dari penduduk Nusantara sendiri. Barisan semacam itu berasal dari banyak daerah, mulai Madura, Bugis, Ambon, sampai Minahasa.
Sejumlah artikel modern menyebut pelakunya secara khusus orang Manado. Sumber yang mereka rujuk tidak menyebut daerah asal satuan itu, dan belum ada dokumen yang menghubungkan pasukan bantuan Manado dengan peristiwa di Kelir.
Kepala yang dipenggal lalu dipasang di tempat terbuka adalah praktik yang berulang pada fase akhir perang. Penduduk desa sekitar dibuat melihat bahwa perlindungan seorang pangeran Diponogoro pada mereka sudah tidak berlaku lagi.
Sumber: Peter Carey, The Power of Prophecy (2007), hlm. 652-660
-
4 November 1829
Plamjarang
Kini Plunjaran, Kecamatan Wadaslintang, Kabupaten Wonosobo.
Enam bulan setelah mendarat di Semarang, pengejaran berpindah ke barat daya, ke perbukitan di perbatasan Wonosobo, Kebumen, dan Purworejo. Garis pada peta menunjukkan jarak yang harus ditempuh dari pelabuhan pendaratan sampai ke medan operasi November 1829: sekitar 130 kilometer melewati Ambarawa, Temanggung, dan Wonosobo.
Pada 4 November 1829, Mayor Michiels berada di sebuah tempat yang ditulis Plamjarang dalam laporannya. Nama itu bertahan sampai sekarang sebagai Plunjaran, desa di Kecamatan Wadaslintang.
Di tempat inilah ia menerima kabar bahwa Diponegoro sudah meninggalkan Soemo Gede dan bergerak lebih ke utara menuju Lamok.
Mayor Michiels adalah Andreas Victor Michiels, perwira kelahiran 1797 yang baru diangkat menjadi mayor pada tahun itu. Kariernya menanjak cepat sesudah Perang Jawa. Lalu 20 tahun kemudian ia menjadi letnan jenderal dan gubernur di Sumatra Barat, dan tewas dalam ekspedisi militer ke Bali pada 1849.
Laporan tanggal ini belum menyebut detasemen Manado. Kehadiran mereka baru muncul dua hari kemudian, di Kaliwiro.
-
5-6 November 1829
Kaliwiro
Kini Kaliwiro, Kecamatan Kaliwiro, Kabupaten Wonosobo.
Dari Plunjaran, Michiels berbelok ke utara menuju Kaliwiro dan tiba di sana pada 5 November. Jaraknya sekitar 12 kilometer melewati jalan yang menyusuri lembah Sungai Bogowonto.
Nama Kaliwiro tidak pernah berubah. Kini ia ibu kota kecamatan di Kabupaten Wonosobo.
Di sini Michiels memecah pasukannya, mengirim beberapa perwiranya ke arah yang berbeda untuk menyisir kemungkinan jalur pelarian.
Dan di sinilah, pada 6 November, laporan itu untuk pertama kalinya menyebut orang Manado. Michiels berangkat dari Kaliwiro dengan 70 orang prajurit jager dan 50 orang pasukan bantuan Manado.
Jager adalah infanteri ringan: prajurit bersenjata senapan laras panjang yang dilatih bergerak cepat dalam kelompok kecil, menembak dari jarak jauh, dan beroperasi di medan berat. Mereka adalah pasukan pilihan untuk pengejaran semacam ini.
120 orang bersenjata meninggalkan Kaliwiro pada pagi 6 November 1829. Dari seluruh Perang Jawa, inilah titik paling awal yang menyebut detasemen Manado dalam dokumen sezaman.
-
3-6 November 1829
Soemo Gede
Kini Somogede, Kecamatan Wadaslintang, Kabupaten Wonosobo.
Somogede adalah desa di Kecamatan Wadaslintang yang menurut riwayat setempat sudah berdiri sejak 1730. Pada awal November 1829, di sinilah Diponegoro bermalam.
Garis pada peta ini bukan gerak pasukan kolonial, melainkan gerak pihak yang sedang diburu. Pada malam 6 November, Diponegoro meninggalkan Somogede dan bergerak ke utara menuju Lamok, menyusuri jalur di antara punggungan bukit.
Barisan pasukan Michiels tidak pernah sampai ke Somogede. Mereka berbelok ke utara di tengah jalan begitu kabar tentang perpindahan itu sampai kepada mereka.
Pada awal November itu kedua rombongan bergerak di kawasan yang sama, terpisah beberapa kilometer, dan sama-sama bergantung pada kabar dari penduduk serta pengintai yang direkrut kedua belah pihak. Desa-desa di antara keduanya dilewati dua rombongan bersenjata dalam hitungan hari.
-
6 November 1829
Altan
Kini Ngalian, Kecamatan Wadaslintang, Kabupaten Wonosobo.
Laporan Michiels menyebut sebuah tempat bernama Altan, di ketinggian, tempat para mata-matanya melapor bahwa Diponegoro semalam telah bergerak balik ke Lamok. Tempat itu adalah Ngalian.
Letaknya masuk akal secara geografis. Ngalian berada persis di tengah jalur yang menghubungkan Somogede di selatan dengan Lamuk di utara, pada punggungan bukit yang memberi pandangan ke lembah di kedua sisi.
Di titik inilah kolom berbelok arah. Sasaran semula, Somogede, ditinggalkan begitu kabar terbaru sampai.
50 orang Manado melewati tempat ini pada 6 November 1829.
Arah gerak kolom Michiels hari itu ditentukan oleh laporan pengintai, bukan oleh rencana yang disusun sebelumnya. Para pengintai itu direkrut dari penduduk setempat, dan laporan Michiels tidak mencatat nama maupun alasan mereka bekerja untuknya.
-
malam 6 November 1829
Prouwo
Kini Purwo, Kecamatan Kaliwiro, Kabupaten Wonosobo.
Hari menjelang malam ketika kolom tidak dapat maju lebih jauh. Mereka berhenti di desa Prouwo dan bermalam di sana.
Prouwo kini bernama Purwo, sebuah desa di Kecamatan Kaliwiro. Jaraknya dari Lamuk hanya sekitar 2,4 kilometer, cocok dengan laporan bahwa keesokan paginya kolom melanjutkan perjalanan dan diserang tak lama sebelum tiba.
Ini satu-satunya malam dalam seluruh cerita ini yang lokasinya diketahui dengan pasti. 120 orang bersenjata, 70 orang jager dan 50 orang Manado, tidur di sebuah desa kecil di lereng Wonosobo.
Laporan tidak menyebut di mana mereka tidur, apa yang mereka makan, atau siapa yang menyediakannya. Kolom bergerak pada masa itu bertumpu pada apa yang tersedia di tempat mereka berhenti.
Yang menyaksikan malam itu adalah penduduk Prouwo. Tidak ada satu pun nama mereka yang masuk ke dalam laporan.
-
7 November 1829
Lamok
Kini Lamuk, Kecamatan Kaliwiro, Kabupaten Wonosobo.
Pagi 7 November, sekitar 700 meter sebelum Lamok, tembakan datang dari jurang bersemak di sisi kiri jalan. Senapan dan lila, meriam kecil berputar yang biasa dipakai pasukan Jawa dan dipasang di atas tumpuan kayu.
Michiels melarang anak buahnya membalas tembakan. Ia memerintahkan pasukan maju dalam formasi kolom dengan empat peleton sambil meniup sangkakala serbu. Taktik itu mengandalkan tekanan: bergerak lurus ke arah sumber tembakan tanpa berhenti, sehingga penyergap harus memilih antara bertahan dalam pertarungan jarak dekat atau mundur.
Pada jarak sekitar 50 langkah, pasukan Diponegoro mundur. Para jager mengejar sekitar satu setengah kilometer melewati jalan-jalan setapak.
Michiels sendiri menulis dalam laporannya bahwa ia tidak yakin lawan kehilangan banyak orang, karena mereka terlindung oleh hutan.
Dalam operasi yang sama, patroli menangkap seorang tokoh agama yang disebut laporan sebagai pendeta musuh, dengan tuduhan mengintai pos depan. Dari orang itulah Michiels mengaku memperoleh taksiran kekuatan Diponegoro: sekitar 140 orang bersenjata senapan dan tombak, dipimpin dua orang putra Diponegoro, dua orang kerabat bergelar pangeran, seorang Rijksbestierder atau patih, dan tiga orang tumenggung.
Laporan itu tidak menjelaskan dasar tuduhannya, cara keterangan itu diperoleh, maupun apa yang terjadi pada orang tersebut sesudahnya.
Inilah satu-satunya pertempuran dalam Perang Jawa yang bisa dipastikan melibatkan pasukan bantuan Manado, dan satu-satunya tempat di seluruh peta ini di mana mereka disebut dalam dokumen sezaman.
-
11 November 1829
Gowong
Kini Gowong, Kecamatan Bruno, Kabupaten Purworejo.
Empat hari setelah Lamok, pengejaran berpindah sekitar 18 kilometer ke tenggara, ke kawasan Gowong. Nama itu masih ada sebagai desa di Kecamatan Bruno, Kabupaten Purworejo, dan dulu juga merupakan nama sebuah distrik di Bagelen.
Di perbukitan Gowong, pada 11 November 1829, kolom Michiels nyaris menangkap Diponegoro.
Ia lolos, tetapi kehilangan kudanya, tombak pusakanya, dan sebagian pakaiannya. Tombak pusaka adalah benda yang menandai kedudukan seorang pangeran Jawa, dan kehilangannya diberitakan pihak kolonial sebagai kekalahan tersendiri.
Empat bulan kemudian, di Magelang, Diponegoro menyerahkan diri dalam perundingan yang berakhir dengan penangkapannya.
Laporan 6 dan 7 November memastikan 50 orang Manado berada bersama Michiels beberapa hari sebelum peristiwa Gowong. Susunan kolom pada 11 November sendiri tidak dirinci dalam laporan yang terbit.
-
28 Maret 1830
Magelang
Kini Magelang, Kota Magelang, Jawa Tengah.
Pada 28 Maret 1830, hari raya Idulfitri, Diponegoro datang ke Magelang untuk berunding dengan Letnan Jenderal De Kock. Perundingan itu berakhir dengan penangkapannya.
Ia dibawa ke Batavia, lalu diasingkan ke Manado, tempat ia ditahan di Benteng Amsterdam selama tiga tahun, sebelum dipindahkan ke Makassar sampai wafatnya pada 1855.
Tiga tahun pertama pengasingannya, dengan demikian, ia jalani di ibu kota keresidenan yang mengirim pasukan bantuan untuk memburunya.
Cerita yang diwariskan di lingkungan keluarga Sigar menempatkan Tawalijn atau pasukannya dalam lingkaran pengamanan penangkapan itu. Penangkapan di Magelang dirancang dan dijalankan langsung oleh pimpinan kolonial di bawah De Kock, dan catatan sezaman tentang hari itu menyebut para perwira Belanda yang hadir, bukan satuan bantuan dari luar Jawa.
Delapan bulan setelah Magelang, para pasukan bantuan dipulangkan ke daerah asal masing-masing, dan pemimpinnya diberi pangkat atau gelar.
Koleksi Istana Kepresidenan Republik Indonesia. Domain publik.
Bab enam · 1830-1841
Pulang, lalu delapan tahun yang sunyi
Perang berakhir pada 28 Maret 1830, ketika Diponegoro ditangkap dalam perundingan di Magelang dan diasingkan ke Manado, lalu ke Makassar.
Tetapi urusan memulangkan pasukan sudah dimulai sebelum itu. Pada 21 Maret 1830, tujuh hari sebelum Diponegoro datang ke Magelang, Direktur Hasil Bumi dan Gudang Sipil di Batavia, J.C. Reijnst, memasang pengumuman di Javasche Courant isinya begini:
“Dibutuhkan ruang kapal untuk mengangkut pasukan bantuan dari Semarang ke Ternate, Tidore, Manado, dan Buton. Peminat dipersilakan menghubungi Residen Semarang.”
Pemulangan ribuan orang bersenjata dari luar Jawa, diurus lewat tender pengangkutan di kolom iklan koran, di antara pengumuman lelang beras dan karung kopi. Tanggalnya juga menunjukkan bahwa Batavia sudah memperhitungkan perang akan selesai sebelum perundingan Magelang dimulai.
Kolom pelayaran Semarang mencatat sisanya. Pada 16 April 1830, kapal Arab Nourwan el Joesoor di bawah nakhoda K. de Looper berangkat menuju Surabaya, Ternate, dan Manado membawa pasukan pemerintah. Pada 18 Mei 1830, brik Mercator dengan nakhoda P. Lambers berlayar dari Semarang menuju Manado, memulangkan pasukan bantuan.
Sehari sebelum Mercator berangkat, dari dermaga yang sama, sebuah kapal uap membawa Letnan Gubernur Jenderal De Kock dan rombongannya kembali ke Batavia. Sehari sesudahnya, Schooner Sirius, kapal yang 14 bulan sebelumnya menurunkan 141 orang Minahasa di pelabuhan itu, merapat lagi dari arah timur membawa 12 orang rekrutan baru.
F.V.A. de Stuers, perwira Belanda yang kelak menjadi gubernur di Maluku dan menulis catatan perang itu pada 1847, menjelaskan pola umum yang mengikuti kepulangan tersebut: satuan-satuan bantuan dikembalikan ke daerah asal, dan para pemimpinnya diberi pangkat atau gelar sebagai imbalan.
Di Langowan, daftar kepala lokal menempatkan Tawaijlan Sigar sebagai Hukum Kedua pada 1831 sampai 1833. Ia kembali ke pemerintahan distrik. Hukum kedua artinya jabatannya satu tingkat di bawah kepala distrik.
Pada tahun-tahun itu pula ia berhadapan dengan misionaris protestan.
Schwarz tiba di Langowan pada 1831, tahun yang sama ketika Tawalijn masuk ke jabatan itu. Riwayat misi misionaris menyebut Sigar dan istrinya, sang Walian, sebagai penghalang utama pekerjaan misi penyebaran kristen pada 1832 dan 1833.
Bagi seorang kepala walak, agama leluhur menopang kedudukannya secara langsung. Hak memimpin negeri disahkan lewat upacara foso, dan upacara itu dipimpin para Walian. Misionarsis datang membawa sekolah dan guru yang mengangkat orang berdasarkan kemampuan membaca dan menulis, bukan berdasarkan garis keturunan.
Tawalijn bukan satu-satunya. H.W. Dotulong, Majoor Sonder yang memimpin seluruh pasukan Minahasa ke Jawa, tercatat sebagai salah satu penentang paling keras kekristenan di distriknya.
Ia pernah berkata bahwa mengenai rakyatnya, ia tidak menyukai semua hal bagus tentang pencerahan dan peradaban. Yang ia takutkan, menurut sejarawan Mieke Schouten, adalah hilangnya jarak status antara dirinya dan orang-orang yang ia perintah.
Beberapa kepala yang paling lama menahan misionaris di distriknya adalah kepala yang pernah berangkat ke Jawa. Kedudukan mereka sudah diakui pemerintah kolonial sejak sebelum sekolah misi berdiri, dan pengakuan itu tidak bergantung pada gereja.
Riwayat lokal yang sama menyebut Tawalijn diberhentikan pada 1833.
Ada satu riwayat cetak sezaman yang menyimpan cerita tentang seorang kepala Langowan pada tahun-tahun itu, ditulis dari buku harian Schwarz sendiri dan diterbitkan Nederlandsch Zendelinggenootschap pada 1860.
Pagi Tahun Baru 1835, catatan itu bercerita, para kepala Langowan, Kakas, dan Remboken hadir bersama istri masing-masing di kebaktian, lalu singgah di rumah Schwarz dan ikut bergembira ketika anak-anak sekolah menerima hadiah kecil.
Malamnya, Majoor Langowan menyuruh orang memainkan alat musik Alfur dan menggelar pesta tari sampai larut, dan sebagian orang yang Schwarz harapkan berbuat lebih baik ikut menari demi menyenangkan sang Majoor. Keesokan harinya Schwarz menulis di buku hariannya bahwa ia punya banyak alasan untuk berduka.
Pada 1838, catatan yang sama mencatat sesuatu yang jauh lebih keras. Majoor Langowan diadukan kepada pemerintah kolonial oleh sejumlah orang yang ia perintah, dengan tuduhan salah urus dan bersikap sewenang-wenang.
Tak lama setelah pengaduan itu, sang Majoor datang kepada Schwarz meminta dibaptis. Schwarz menilai waktunya tidak tepat dan menawarkan mengajaknya mengikuti pembinaan iman terlebih dahulu.
Sang Majoor mengikuti pengajaran itu sampai, sebulan kemudian, ia benar-benar dipecat dari jabatannya.
Begitu jabatannya lepas, ia kembali kepada agama lama dan menggelar foso, seolah hendak kecewa terhadap nasibnya. Pemerintah kolonial mencatat seseorang selama ia memegang jabatan, lewat surat pengangkatan, daftar gaji, dan laporan kontrolir. Orang yang tidak menjabat tidak menghasilkan berkas.
Pada dasawarsa itu kewajiban menanam kopi diperketat di seluruh dataran tinggi: penduduk harus menanam dan menyetor hasilnya kepada pemerintah dengan harga yang ditetapkan pemerintah pula.
Jalan-jalan baru dibuka untuk mengangkut kopi ke pesisir. Jumlah sekolah misionaris bertambah, dan bersamanya bertambah orang yang bisa membaca, menulis, dan bekerja di kantor.
Lulusan sekolah itulah yang kemudian mengisi jabatan-jabatan rendah pemerintahan kolonial. Pada 1840-an, jalan menuju jabatan di Minahasa sudah melewati gereja dan sekolah misionaris.
Pada 1841, Tawalijn menempuh jalan itu. Pada Januari 1841 akhirnya Tawalijn resmi dibaptis.
Pengangkutan pasukan bantuan pulang, Javasche Courant 25 Maret 1830
Brik Mercator berlayar ke Manado dengan pasukan bantuan, Javasche Courant 25 Mei 1830
F.V.A. de Stuers, Gedenkschrift van den oorlog op Java (1847), hlm. 246
"Leven en werkzaamheden van J.G. Schwarz, den zendeling van Langowang", Mededeelingen van het Nederlandsch Zendelinggenootschap, jilid 5 (1861), disusun dari buku harian Schwarz
Ariel Lopez, "Christian Conversions and Dutch Colonialism in Minahasa", Archipel 109 (2025)
Bab tujuh · 1841-1847
Menjadi Benjamin
Pada 1841, laki-laki yang delapan tahun sebelumnya menghalangi Schwarz menyebarkan Kristen di Langowan berdiri di depannya untuk meminta dibaptis.
Sejak hari itu ia bernama Benjamin Thomas Sigar.
Pembaptisan seorang kepala di Minahasa abad ke-19 selalu punya akibat berentetan. Kerabat dan orang-orang yang bergantung pada kedudukannya biasanya menyusul dalam waktu singkat. Angkanya bergerak cepat sesudah itu. Pada September 1842, sekitar 300 orang di Langowan telah dibaptis.
Gereja pertama kota itu ditahbiskan pada Minggu, 18 April 1847. Bangunan itu paling banyak memuat 400 orang. Yang datang dua kali lipatnya. Orang berkerumun mengelilingi gedung, dan semua jendela serta pintu terisi.
Sesudah tengah hari, Inspektur Van Rhijn membaptis 14 orang dewasa. Di antara mereka ada beberapa yang sudah lanjut usia dan dua orang Walian.
Lalu, sebelum kebaktian ditutup dengan doa dan nyanyian, Majoor Langowan dan istrinya diteguhkan pernikahannya secara Kristen.
Dalam satu upacara pagi sampai sore itu, dua Walian menerima baptisan, kepala distrik menikahkan ulang dirinya menurut aturan gereja, dan residen keresidenan menyaksikannya dari bangku depan.
Daftar kepala lokal mencatat Benjamin kembali menjadi Hukum Kedua – wakil kepala distrik pada 1841 sampai 1847, tepat pada rentang yang sama.
Tidak ada surat keputusan pemerintah kolonial yang menjadikan baptisan sebagai syarat jabatan. Penelusuran ini juga tidak menemukan dokumen yang menghubungkan keduanya secara langsung. Namun, kedua catatan itu memperlihatkan pola yang sama: baptisan dan pengangkatan pejabat meningkat pada periode yang berdekatan.
Sebagian sebabnya ada pada cara kerja Schwarz. Ia membangun jemaat lewat sekolah, bukan lewat khotbah di lapangan. Anak-anak kepala adat dan orang berada diajari membaca, menulis, dan berhitung dalam bahasa Melayu, kemudian Belanda, dan lulusannya menjadi guru, juru tulis, dan pegawai rendah.
Susunan itu murah bagi pemerintah kolonial: misionaris yang membiayai sekolahnya, pemerintah yang memakai lulusannya. Bagi keluarga kepala, sekolah misionaris adalah satu-satunya jalan naik kelas yang tersedia. Dalam dua generasi, Minahasa menjadi salah satu wilayah paling terkristenkan di Nusantara sekaligus salah satu pemasok pegawai dan serdadu terbesar bagi pemerintah Hindia Belanda.
Perubahan itu menghapus banyak hal di sisi lain. Foso ditinggalkan atau disembunyikan, dan peran Walian menyusut menjadi urusan yang dianggap takhayul.
Perempuan yang sebelumnya memegang otoritas keagamaan tertinggi tidak punya tempat setara dalam susunan baru, yang pendetanya laki-laki dan diangkat dari luar.
Istri Benjamin adalah seorang Walian. Perubahan itu terjadi di dalam rumahnya sendiri.
Catatan keluarga Saerang, yang ditulis beberapa waktu setelah peristiwa itu, menyebut pembangunan gereja pertama di Langowan sebagai hasil mufakat para pemimpin setempat. Dalam catatan tersebut, Benjamin termasuk salah satu pemimpin yang terlibat, bukan pendiri tunggal.
Enam tahun setelah ia dibaptis, gereja pertama Langowan berdiri. 10 bulan setelah gereja itu ditahbiskan, Benjamin Thomas Sigar diangkat menjadi kepala distrik. Membuatnya jadi pemimpin tertinggi di Langowan.
Saat itu usianya sekitar 58 tahun.
Sejarah penginjilan Langowan, catatan keluarga Saerang
"Leven en werkzaamheden van J.G. Schwarz, den zendeling van Langowang", Mededeelingen van het Nederlandsch Zendelinggenootschap, jilid 5 (1861), disusun dari buku harian Schwarz
Laporan inspeksi Ds. van Rhijn atas zending di Minahasa, termasuk pertemuan tujuh zendeling di Langowang pada pertengahan Maret 1847, Drentsche courant 12 November 1847
Fotografer tidak diketahui; Wereldmuseum Amsterdam, TMnr 10016582. CC BY-SA 3.0.
Bab delapan · Februari 1848 - Januari 1870
Majoor Langowan
Dari Februari 1848 sampai Januari 1870, Benjamin Thomas Sigar memerintah Langowan selama hamper 22 tahun, di sebuah distrik yang menurut penggambaran sezaman termasuk yang paling tertata di Minahasa.
Gelarnya Majoor. Kata itu menyesatkan pembaca masa kini karena terdengar seperti pangkat militer, padahal bukan. Di Minahasa, Majoor adalah gelar kehormatan yang diberikan pemerintah kolonial kepada kepala distrik pribumi – atau camat di era modern sekarang. Sebutan jabatannya dalam bahasa setempat adalah Hukum Besar, yaitu kepala distrik, dengan Hukum Kedua sebagai wakilnya.
Graafland mencatat asal-usul gelar itu tanpa berbelit: mula-mula Majoor diberikan kepada kepala yang ikut ke Jawa atau menyediakan banyak orang untuk Perang Jawa. Belakangan gelar yang sama diberikan karena memimpin distrik besar atau menyetor kopi paling banyak.
Kajian arsip modern menegaskan hal yang sama dari sisi pemerintah kolonial: kepala distrik yang menyetor lebih banyak orang untuk perang diakui sebagai Hukum Majoor, yang menyetor lebih sedikit tetap Hukum Besar. Sejak awal, pangkat itu diberikan sebagai imbalan atas tenaga manusia.
Benjamin memenuhi kedua syarat itu. Ia pernah berangkat ke Jawa, dan distrik yang ia pimpin termasuk penyetor kopi terbesar di dataran tinggi.
Nicolaas Graafland, yang catatannya menjadi sumber utama bagian ini, adalah guru misionaris kelahiran Belanda yang datang ke Minahasa pada 1849 dan tinggal puluhan tahun.
Bukunya, De Minahassa, terbit dalam dua jilid pada 1867 dan 1869, dan sampai sekarang merupakan gambaran paling rinci tentang Minahasa abad ke-19. Pada halaman 81 jilid kedua, Graafland singgah di loge Langowan. Majoor tua di sini, tulisnya, orang baik, tetapi kurang punya tact dan kurang mahir menerima tamu. Graafland menyebut ia sama seperti Majoor Sonder, ikut ambil bagian dalam perang di Jawa.
Majoor Sonder adalah H.W. Dotulong, orang yang mengantar seluruh 1.400 orang pasukan Minahasa ke Jawa. Graafland menyebut kedua orang itu dalam satu tarikan napas sebagai veteran perang yang sama, lalu menambahkan bahwa kepala Langowan jauh tertinggal dari Dotulong dalam hal keluwesan bergaul dan kepandaian mengurus diri di hadapan orang luar.
Ia menulis itu ketika Benjamin masih menjabat. Sejauh penelusuran ini, kalimat tersebut adalah satu-satunya keterangan sezaman yang menghubungkan jabatan kepala distrik Langowan dengan pengalaman perangnya di Jawa.
Kata Belanda tact di situ tidak berarti kebijaksanaan memimpin. Yang dimaksud Graafland adalah kemampuan menjamu menurut ukuran Eropa: percakapan meja makan, keramahan terhadap pejabat yang singgah, dan kemampuan membuat tamu kulit putih merasa nyaman. Ukuran itulah yang ia pakai untuk membandingkan kepala-kepala pribumi satu sama lain.
Secara administratif, tempat Benjamin memimpin dalam susunan kekuasaan bisa dilihat di Regerings-Almanak, buku alamat resmi pemerintah Hindia Belanda. Edisi 1870 menempatkan Langowan sebagai distrik di dalam Afdeling Tondano, yang berada di bawah Residensi Manado, yang wilayahnya mencakup seluruh Minahasa dan Gorontalo.
Pekerjaan seorang kepala distrik dalam susunan itu bisa dirinci. Ia menerima perintah dari kontrolir dan residen, lalu menentukan siapa yang menanam kopi, siapa yang memperbaiki jalan, siapa yang membayar pajak, dan siapa yang dihukum bila menolak. Ia pula yang menerima pejabat kolonial yang datang berkunjung, dan itulah sebabnya Graafland menilai kepala distrik dari kemampuannya menjamu tamu.
Kedudukan Benjamin bertumpu pada dua hal sekaligus. Wewenangnya atas penduduk Langowan berasal dari garis keturunan kepala walak, sedangkan gelar, gaji, dan bagian kopinya berasal dari pemerintah kolonial. Menghilangkan salah satu darinya akan membuat masa jabatan 22 tahun itu sulit dijelaskan.
N. Graafland, De Minahassa, jilid II (1869), hlm. 81 dan 87
Regerings-Almanak voor Nederlandsch-Indië 1870
Majoor tua Langowan dan Perang Jawa, 1869.
Majoor tua Langowan dan Perang Jawa
Graafland menulis bahwa Majoor tua Langowan adalah orang baik dan pernah ikut perang di Jawa, tetapi menurut penilaiannya kurang memiliki tact dan kurang mahir menerima tamu.
Inilah satu-satunya keterangan sezaman yang menghubungkan jabatan Benjamin sesudah perang dengan pengalaman militernya. Penilaian tentang tact adalah ukuran Eropa mengenai kelihaian bergaul dan menjamu tamu, bukan ukuran kemampuan memimpin sebuah distrik.
Sumber: N. Graafland, De Minahassa, jilid II (1869), hlm. 81
Anonim; Leiden University Libraries/KITLV 1403509. CC BY 4.0.
Bab sembilan · 1848-1870
Kopi, kerja, dan kuasa
Kopi adalah alasan Minahasa penting bagi Batavia.
Sejak awal abad ke-19, penduduk dataran tinggi diwajibkan menanam kopi dan menyerahkan hasilnya kepada pemerintah dengan harga yang ditetapkan pemerintah. Sistem itu berjalan puluhan tahun sebelum Cultuurstelsel diberlakukan di Jawa, dan berlanjut lama sesudahnya.
Yang menjalankannya di lapangan adalah kepala distrik.
Pada halaman 87 jilid kedua bukunya, Graafland mencatat Langowan menghasilkan cukup banyak kopi tetapi kekurangan tenaga panen. Karena itu perempuan ikut bekerja di kebun, termasuk ibu-ibu yang menggendong anak di punggung, dalam kondisi panas dan hujan.
Graafland menulisnya sebagai keterangan produksi, untuk menjelaskan mengapa setoran Langowan tetap tinggi meski jumlah tenaga buruhnya kurang.
Di jilid pertama, Graafland merinci apa yang diterima seorang Majoor atau Hukum Besar atau kepala distik dari jabatannya. Ia mendapat bagian dari hasil kopi distrik dan satu gulden dari setiap wajib pajak. Setiap hari ia memperoleh 4-10 orang untuk mengurus kandang, dapur, atau keperluan lain. Jabatannya lazim diwariskan kepada anak atau kerabat yang sudah lebih dulu menjadi kepala kedua atau wakil camat.
Pendapatan, tenaga kerja harian, dan pewarisan jabatan itu berlaku bagi semua kepala distrik di Minahasa, bukan hanya di Langowan.
Pengakuan paling terang datang dari Graafland sendiri, di halaman 276. Ia menulis bahwa penduduk tidak pernah meminta renovasi jalan, penataan kota, atau kebun kopi. Semua itu mereka kerjakan dengan tangan sendiri, banyak tanpa bayaran, karena pemerintah kolonial menghendakinya, dan bertentangan dengan kemauan mereka.
Sebagai kepala distrik, Benjamin menghubungkan perintah residen dan kontrolir dengan pemungutan pajak, penyetoran kopi, pengerahan buruh untuk pembangunan atau perbaikan jalan, dan pengawasan penduduk Langowan. Sebagian hasil dari pekerjaan itu kembali kepadanya sebagai bagian kopi, uang pajak, dan tenaga harian.
Tidak ada satu pun laporan yang mencatat ia memerintahkan orang dipukul, dihukum, atau dibunuh. Yang tercatat adalah kewajiban yang ia jalankan selama 22 tahun, dan apa yang kewajiban itu ambil dari penduduk distriknya.
Sumber-sumber kolonial menyebut hasilnya "kemajuan": jalan bertambah, gereja berdiri, sekolah terisi, ekspor kopi naik. Yang tidak masuk hitungan itu adalah hilangnya pilihan penduduk atas tenaga dan tanah mereka sendiri.
Kalau ada yang perlu dipersoalkan dari Benjamin Sigar, letaknya bukan pada dua hari saat berperang melawan Dipongoro di Wonosobo pada November 1829, melainkan pada dua dasawarsa di Langowan sesudahnya.
"Penduduk tidak meminta jalan, penataan negeri, atau kebun kopi. Semua itu mereka kerjakan dengan tangan sendiri, banyak tanpa bayaran." N. Graafland, 1869
N. Graafland, De Minahassa, jilid II (1869), hlm. 87 dan 276
N. Graafland, De Minahassa, jilid I (1867), hlm. 187-190
Jalan, sekolah, kopi, dan tenaga perempuan, 1869.
Jalan, sekolah, kopi, dan tenaga perempuan
Graafland menggambarkan Langowan dengan jalan terawat, loge, sekolah, gereja, kebun kopi, dan jaringan angkutan menuju Kakas. Ia menyebut kekurangan tenaga panen sehingga perempuan bekerja di kebun, termasuk ibu yang menggendong anak di punggung dalam panas dan hujan.
Halaman ini menggambarkan keadaan distrik pada masa jabatan Benjamin. Graafland sendiri mengaitkan tanggul besar dengan Residen Jansen dan Paepke Bülow serta bangunan misi dengan Schwarz. Kalimat tentang perempuan penggendong anak memperlihatkan siapa yang menanggung beban di balik angka produksi kopi.
Sumber: N. Graafland, De Minahassa, jilid II (1869), hlm. 87
Pengakuan kolonial tentang kerja tanpa bayaran, 1869.
Pengakuan kolonial tentang kerja tanpa bayaran
Graafland mengakui bahwa penduduk tidak meminta jalan, penataan negeri, atau kebun kopi. Semua itu mereka kerjakan dengan tangan sendiri, banyak tanpa bayaran, karena pemerintah kolonial menghendakinya dan bertentangan dengan kemauan mereka.
Ini konteks struktural bagi pemerintahan Benjamin dan seluruh kepala distrik Minahasa. Yang menulisnya adalah orang yang membela sistem tersebut, dan justru karena itu kalimatnya sulit dibantah sebagai tuduhan pihak luar.
Sumber: N. Graafland, De Minahassa, jilid II (1869), hlm. 276
Langowan, tiga sampai lima dekade kemudian
Foto tertua Langowan yang tersimpan di arsip Belanda dibuat antara 1900 dan 1924, tiga sampai lima dasawarsa setelah Benjamin pensiun. Yang terlihat di dalamnya adalah kota yang tumbuh dari tata pemerintahan pada masanya: jalan lebar, gereja, dan rumah panggung.
Fotografer tidak diketahui; Wereldmuseum Amsterdam, TMnr 60008317. CC BY-SA 3.0.
Fotografer tidak diketahui; Wereldmuseum Amsterdam, TMnr 10016583. CC BY-SA 3.0.
Fotografer tidak diketahui; Wereldmuseum Amsterdam, TMnr 60014335. CC BY-SA 3.0.
Bab sepuluh · 1870-1880
Pensiun, lalu lima baris di koran
Pada Januari 1870, Benjamin Thomas Sigar berhenti menjabat. Penggantinya adalah anaknya sendiri, Lourens Roeland Sigar.
Pergantian itu mengikuti pola yang dicatat Graafland: jabatan kepala distrik lazim berpindah kepada anak atau kerabat yang sudah lebih dulu menjadi kepala kedua.
Lalu 10 tahun kemudian, sekitar Januari 1880, Benjamin meninggal pada usia kira-kira 90 tahun.
Umur itu memberi kerangka waktu bagi seluruh hidupnya. Ia lahir sekitar 1790. Ketika berangkat ke Jawa pada 1829 ia berusia sekitar 39 tahun, sudah matang dan sudah memegang jabatan. Ketika dibaptis, ia berumur sekitar 51 tahun. Ketika menjadi kepala distrik, ia berusia 58 tahun. Ketika pensiun, ia sekitar 80 tahun.
Pada 2 Februari 1880, Soerabaijasch Handelsblad memuat berita kematiannya dari Manado. Isinya 5 baris, dan memuat 4 keterangan: bahwa ia bekas majoor distrik Langowan, bahwa ia ayah dari majoor yang sedang menjabat, bahwa ia meninggal pada usia 90 tahun dan dimakamkan dengan segala penghormatan, dan bahwa ia salah satu kepala adat yang ikut berpartisipasi di Perang Jawa melawan Diponegoro.
Pada periode yang sama, koran-koran yang sama memuat kabar lain dari Minahasa: kerja wajib yang ditolak penduduk, hukuman kerja umum tanpa upah, dan penyalahgunaan tenaga pendayung oleh pejabat di beberapa distrik. Tidak ada satu pun laporan semacam itu yang menyebut Langowan atau Benjamin. Tetapi keduanya terbit berdampingan, di momen yang sama.
Berita kematian itu disalin beberapa koran lain pada Februari sampai Maret 1880, sebagaimana kebiasaan pers kolonial yang saling mengutip.
Yang membuat lima baris itu berharga bukan penyebutan Perang Jawa, melainkan penyebutan hubungan ayah dan anak. Dengan menempatkan Benjamin sebagai ayah dari majoor Langowan yang sedang menjabat pada 1880, koran itu mengunci satu sambungan generasi yang tidak ada di dokumen lain mana pun yang ditemukan penelusuran ini.
Dari sambungan itu garis keluarganya bisa ditarik ke depan: Lourens Roeland, Philip Roeland, Philip Frederik Laurens, Dora Marie, lalu anak-anak Dora termasuk Prabowo Subianto.
Obituari Benjamin Thomas Sigar, 2 Februari 1880.
Obituari Benjamin Thomas Sigar
Bekas majoor distrik Langowan, Benjamin Thomas Sigar, yang dihormati dan dicintai rakyat, ayah dari majoor yang sekarang, telah meninggal pada usia 90 tahun dan dimakamkan dengan segala penghormatan. Ia salah satu kepala yang ikut mengalami Perang Jawa melawan Diponegoro.
Lima baris yang memuat empat keterangan: jabatan, hubungan ayah dan anak, usia, dan Perang Jawa. Kalimat tentang dihormati dan dicintai rakyat adalah karakterisasi koresponden koran. Penyebutan hubungan ayah dan anak itulah yang membuat seluruh silsilah keluarga ini bisa ditarik sampai ke masa kini.
1870 - 2008
Sesudah Benjamin
Empat generasi berikutnya meninggalkan jejaknya sendiri di koran-koran kolonial: sebuah perkara tanah yang kalah di pengadilan Minahasa, sebuah pemberhentian dari dinas negara, sebuah tuduhan penipuan yang diberitakan dari Singapura, sebuah penghargaan kerajaan, dan sebuah sekolah keperawatan di Utrecht.
Lourens Roeland Sigar
Anak yang mewarisi jabatan ayahnya, lalu kalah berperkara tanah melawan pemerintah yang ia layani.
Benjamin pensiun pada Januari 1870 dan digantikan anaknya. Graafland sudah mencatat bahwa jabatan Majoor lazim diwariskan kepada anak atau kerabat yang sudah menjadi kepala kedua, jadi pergantian ini adalah pola, bukan kebetulan.
Sembilan tahun kemudian, Lourens berhadapan dengan pemerintah yang sama di meja hijau.
Pada Senin, 25 November 1878, Landraad Minahasa di Manado menggelar sidang terbuka atas permohonannya. Teks putusannya dicetak utuh oleh Soerabaijasch Handelsblad setahun kemudian, lengkap dengan nama para hakim: Meester Peter Adriaan Matthes sebagai ketua, dengan Jan Eduard Pattijnama, Gerrit van Zoelingen, Thiophius Thomas, Samuel Bernard Lasut, dan Samuel Mandagie sebagai anggota.
Yang ia minta adalah akta kepemilikan atas sebidang tanah di Noongan, distrik Langowan, seluas sekitar 280 bouw menurut surat ukur bertanggal 19 Juli 1876. Bouw adalah satuan luas kolonial setara sekitar 7.100 meter persegi. Sebagian lahan itu ia buka sendiri, sebagian lagi ia beli dari penduduk pribumi yang lebih dulu membukanya.
Landraad menolak. Alasannya satu kalimat: pembukaan lahan di Minahasa oleh orang yang termasuk penduduk pribumi hanya memberi kepada pembukanya hak pakai.
Berapa pun luas yang dibuka dan berapa lama pun dikerjakan, seorang pribumi di Minahasa hanya boleh memakai tanah itu, tidak memilikinya. Asas tersebut berlaku bagi petani mana pun di Minahasa, dan ternyata berlaku juga bagi kepala distrik yang menjalankan pemerintahan kolonial di wilayah yang sama.
Setahun kemudian, pada 22 April 1879, Raad van Justitie di Ambon, pengadilan tinggi kolonial untuk wilayah timur, menutup upaya bandingnya karena tenggat sudah lewat.
Ini adalah ironi, selama bapaknya Benjamin dan dirinya sendiri menjalankan pemungutan pajak, penyetoran kopi, dan kerja wajib untuk pemerintah kolonial, kedudukannya tidak dipersoalkan. Yang ditolak adalah permintaan Lourens agar tanah yang ia buka sendiri diakui sebagai miliknya. Lourens pun menjabat sebagai Majoor sampai 1884.
27 Desember 1884, muncul pemberitahuan pemecatan Lourens di koran: diberhentikan dari dinas negara, kepala distrik pertama dengan gelar majoor Langowan, afdeling Tondano, keresidenan Manado, L.R. Sigar. Diangkat sebagai penggantinya, kepala kedua distrik itu, N. Pande Irot.
Nama Irot sudah lama ada di Langowan. Dalam daftar kepala yang lebih tua, seorang bernama Fiskal Irot tercatat sebagai Kepala Distrik pada masa ketika Tawalijn Sigar menjabat sebagai wakil. Setelah 36 tahun dan dua generasi Sigar berkuasa, akhirnya jabatan kepala distrik kembali kepada keluarga Irot itu.
Lourens meninggal pada 1910. Ia generasi terakhir keluarga ini yang memerintah Langowan.
Soerabaijasch Handelsblad, 4 Juli 1879
Alasan penolakan tingkat awal, 24 Desember 1879
Komentar Het Vaderland, 25 Agustus 1879
Pengangkatan komisi sekolah pribumi Keresidenan Manado, Bataviaasch Handelsblad 1 Februari 1873
Teks putusan Landraad Minahasa 25 November 1878, Soerabaijasch Handelsblad 24 Desember 1879
Pemberhentian L.R. Sigar dan pengangkatan N. Pande Irot, De Locomotief 27 Desember 1884
Philip Roeland Sigar
Cucu yang meninggalkan Minahasa untuk kantor pemerintah di Batavia, lalu namanya muncul dalam berita perkara dari Singapura.
Generasi ketiga tidak lagi memerintah distrik, melainkan bekerja di kantor pemerintah.
Philip Roeland Sigar menjadi juru tulis di Algemeene Secretarie, sekretariat negara Hindia Belanda di Batavia, lembaga yang menyiapkan seluruh keputusan gubernur jenderal. Jalur itu terbuka bagi anak Minahasa pada 1870-an karena sekolah misionaris mengajarkan bahasa Belanda dan tata tulis kantor, dua syarat yang tidak dimiliki lulusan mana pun di luar jaringan gereja.
Sama seperti bapaknya, koran Bataviaasch Handelsblad edisi 11 Desember 1878 memuat informasi yang memberhentikannya dari jabatan itu. Tak dijelaskan alasan adanya indisipliner atau tidak dalam pemberhentian ini.
Tujuh tahun kemudian namanya muncul lagi, dalam berita yang jauh kurang menyenangkan.
Java-Bode edisi 10 April 1885 memberitakan bahwa ia dikejar otoritas Singapura sejak Mei 1882 karena dugaan penipuan senilai 5.000 dolar Meksiko. Ia bersembunyi di rumah orang tuanya, dan menjadi subjek permintaan konsul Belanda agar ditangkap lalu diserahkan ke pengadilan Inggris.
Dolar Meksiko adalah koin perak yang pada abad ke-19 menjadi alat tukar utama di pelabuhan-pelabuhan Asia, dari Kanton sampai Singapura. 5.000 dolar adalah jumlah yang sangat besar untuk ukuran seorang bekas juru tulis.
Penelusuran terhadap dua jilid Straits Settlements Government Gazette edisi Januari–Agustus 1882 tidak menemukan dakwaan maupun putusan atas nama Sigar. Lembaran resmi pemerintah Inggris di Singapura itu lazim memuat perkara semacam ini. Nama Sigar memang muncul beberapa kali, tetapi hanya dalam daftar surat yang tidak diambil di kantor pos Singapura, dengan inisial P. L.
Yang dapat dipastikan dari sumber sezaman hanyalah adanya tuduhan dan permintaan penangkapan yang diberitakan pers. Sejumlah tulisan sekunder menyebut Sigar sempat diadili lalu melarikan diri, tetapi tidak ada dokumen resmi pemerintah dari masa itu yang menguatkan keterangan tersebut.
Pada 1885, ketika berita tentang insiden di Singapura itu terbit, anaknya lahir.
Java-Bode, 10 April 1885
Pemberhentian dengan hormat, Bataviaasch Handelsblad 11 Desember 1878
Philip Frederik Laurens Sigar
Cicit yang masuk sepenuhnya ke dalam birokrasi kolonial, mengirim anaknya bersekolah ke Belanda, lalu wafat di sana.
Ia lahir pada 17 Mei 1885, tahun yang sama ketika nama ayahnya muncul dalam berita perkara Singapura.
Tempat lahirnya tercatat dalam daftar riwayat jabatan yang dimuat koran ketika ia pensiun: Langoan bij Menado. Ia lahir di distrik yang diperintah wareng kakeknya.
Kariernya berjalan di jalur yang sepenuhnya berbeda. Ia naik melalui birokrasi kolonial sampai menjadi Gewestelijk Secretaris atau sekretaris daerah Manado, jabatan tertinggi yang bisa dicapai pegawai pribumi di keresidenan itu, lalu menjadi administrateur pada Provinciale Secretarie Jawa Barat di Bandung.
Daftar riwayat jabatan itu terbit di Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indië pada 17 Juni 1933, memuat kariernya jabatan demi jabatan sejak hari pertama.
Ia mulai pada Juni 1901 sebagai volontair di kantor residen Manado, yaitu pegawai magang tanpa gaji. Pada Januari 1902 ia diangkat menjadi schrijver, juru tulis, dan itulah pekerjaan berbayarnya yang pertama. Gajinya dua setengah gulden sebulan.
Sesudah itu ia berpindah-pindah mengikuti tangga kepegawaian kolonial. Klerk pada inspektur pengajaran pribumi di Tondano, klerk di kantor afdeling Poso, pemegang pos pribumi di Bodjo lalu Una-Una, juru tulis di kantor asisten residen Sulawesi Tengah sambil mengurus kas pemerintahan setempat. Pada April 1909 ia kembali ke kantor residen Manado dan naik berturut-turut sebagai commies dan hoofdcommies, sampai diangkat menjadi pelaksana sekretaris pada Mei 1920.
Akhir 1925 ia diperbantukan kepada Gubernur Jawa Barat, lalu diangkat menjadi referendaris di kantor provinsi. Pada Juni 1930, sepulang cuti dari Eropa, ia menjadi administrateur.
Ia juga duduk di Volksraad, dewan rakyat yang dibentuk pemerintah kolonial pada 1918 sebagai lembaga perwakilan terbatas. Anggotanya sebagian dipilih, sebagian ditunjuk, dan kewenangannya tidak pernah lebih dari memberi nasihat. Bagi pemerintah Belanda, Volksraad adalah bukti niat baik; bagi kaum pergerakan, ia adalah panggung yang tidak berdaya.
De Amstelbode edisi 1 September 1924 memberitakan penghargaan kerajaan yang ia terima ketika menjabat sekretaris daerah Manado. Bataviaasch Nieuwsblad edisi 2 Desember 1932 memberitakan pensiunnya atas permintaan sendiri, dengan hormat dan ucapan terima kasih atas pengabdian panjang.
Ketika pensiun itu berlaku pada Juni 1933, usianya baru 48 tahun. Gubernur menyebut kariernya fenomenal: dari jabatan terendah dalam dinas negara ia berhasil naik menjadi pegawai tinggi. Atas permintaannya sendiri tidak ada upacara perpisahan.
Koran itu menutup beritanya dengan sebuah perbandingan. Pegawai tinggi yang berjasa ini, tulisnya, pada 1902 bergaji dua setengah gulden sebulan; pada jabatan terakhirnya ia bergaji 1.250 gulden.
Rekan-rekannya memberi hadiah jam berdiri. Yang diserahkan hari itu hanya fotonya, karena jamnya akan dikirim ke Belanda.
Sebelum berangkat ia melelang isi rumahnya. Iklan lelang terbit pada 29 Maret 1933: penjualan perabot lengkap yang terawat baik, termasuk ranjang kero, di rumah Tuan Ph. F. L. Sigar, Salemba 29, pada Jumat 31 Maret, dengan malam peninjauan sehari sebelumnya.
Pada 21 Juni 1933 keluarga Sigar naik kapal m.s. Johan de Witt di pelabuhan Batavia menuju Eropa. Daftar penumpang yang dimuat koran-koran Hindia menyebut rombongan itu membawa dua anak: Dora, yang hampir 12 tahun, dan adiknya Frederika, yang baru 9 tahun.
Di Belanda keluarga itu mula-mula tinggal di Amsterdam, di Paramariboplein lalu Apollolaan 87-II. Pada April 1940 mereka pindah ke Laan van Swaensteijn 18 di Voorburg, dekat Den Haag. Di alamat itulah keduanya meninggal.
Istrinya, Cornelie Emelie Maengkom, wafat lebih dulu pada 7 Juli 1946.
Ia wafat di Voorburg, dekat Den Haag, pada 21 November 1946, sebagai Ridder in de Orde van Oranje-Nassau dan duda Cornelie Emelie Maengkom. Usianya 61 tahun.
Iklan kematiannya dipasang keluarga di Algemeen Handelsblad sehari kemudian, ditandatangani dua anaknya, T.A.A. Turang-Sigar dan B.Th.Ph. Sigar. Iklan itu menyebut jabatan-jabatannya, tanda jasanya, nama istrinya, alamat rumah duka, dan tempat pemakamannya di Oud Eik en Duinen, Den Haag.
Pada November 1946, Republik Indonesia sudah berumur satu tahun dan sedang berunding di Linggarjati. Empat generasi setelah Tawalijn Sigar menyeberang ke Jawa untuk berperang di pihak pemerintah kolonial, keturunannya meninggal di Belanda dengan bintang jasa kerajaan di namanya.
Anak perempuannya, Dora, kemudian menikah dengan Sumitro Djojohadikusumo, ekonom yang bekerja untuk Republik.
Iklan kematian yang dipasang keluarga, ditandatangani T.A.A. Turang-Sigar dan B.Th.Ph. Sigar, memuat jabatan, tanda jasa, dan nama istrinya, Algemeen Handelsblad 22 November 1946
Kolom catatan sipil kematian, Het Binnenhof 25 November 1946
Daftar riwayat jabatan lengkap dari volontair 1901 sampai administrateur, dengan tempat dan tanggal lahir Langoan bij Menado, "Afscheid op het Gouverneurs-kantoor van Ph. F. L. Sigar", Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indië 17 Juni 1933
Iklan lelang perabot rumah Ph. F. L. Sigar di Salemba 29 menjelang keberangkatan ke Eropa, Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indië 29 Maret 1933
Ronald Frisart, "Opa en oma Indonesische president liggen begraven in Den Haag. Hoe zit dat?", Historiek 7 November 2025, yang menelusuri register penduduk Den Haag dan Amsterdam serta daftar penumpang dan iklan kematian
Penghargaan kerajaan, De Amstelbode 1 September 1924
Pensiun atas permintaan sendiri, Bataviaasch Nieuwsblad 2 Desember 1932
Dora Marie Sigar
Lahir di kota yang diperintah wareng kakeknya, dibesarkan di Belanda, lalu menikah dengan seorang ekonom Republik.
Dora Marie Sigar lahir pada 1921 di Langowan, kota yang 73 tahun sebelumnya mulai diperintah oleh Benjamin Thomas Sigar.
Pada usia 12 tahun, ia dikirim ayahnya bersekolah di Utrecht, Belanda, di sebuah sekolah menengah Kristen. Di sana ia mengambil pendidikan keperawatan, dengan keahlian merawat pasien pascaoperasi.
Ia anak kedua bungsu dari sembilan bersaudara. Ayah dan ibunya menikah di Manado pada 1911 dan seluruh anaknya lahir di sana.
Yang ikut berlayar pada Juni 1933 hanya dua: Dora dan adiknya Frederika. Tujuh saudaranya yang lain tinggal.
Hanya sedikit keluarga pribumi di Hindia Belanda yang mampu dan diizinkan mengirim anak perempuannya bersekolah menyeberangi separuh dunia. Keluarga pegawai tinggi seperti Sigar termasuk lapisan sempit yang bisa melakukannya.
Ada satu foto dirinya dari masa itu. Diambil pada 1942, dalam konferensi Indonesische Christen Jongeren di Kerk-Avezaath, Betuwe: tujuh anak muda Indonesia berjejer di atas sepeda tandem panjang di tengah padang, tertawa ke arah kamera. Dora yang kedua dari kiri. Belanda ketika itu sudah dua tahun diduduki Jerman.
Kedua orang tuanya meninggal pada 1946, berselang empat bulan. Ibunya pada Juli, ayahnya pada November. Dora berumur 25 tahun.
Ia bertemu Sumitro Djojohadikusumo ketika ekonom muda itu menjadi pasiennya setelah operasi usus. Sumitro kelak menjadi salah satu arsitek kebijakan ekonomi Indonesia merdeka, menteri di beberapa kabinet, dan untuk sebagian masa hidupnya, orang buangan politik.
Mereka menikah pada awal 1947, beberapa bulan setelah kedua orang tuanya dimakamkan.
Mereka menikah dan punya empat anak. Yang kedua bernama Prabowo Subianto, lahir 1951. Yang bungsu, Hashim Djojohadikusumo, menjadi pengusaha.
Dora seorang Kristen dan tetap Kristen sepanjang hidupnya, di sebuah keluarga yang anak-anaknya Muslim. Prabowo beberapa kali menyebut ibunya di depan publik, termasuk dengan menyanyikan lagu Maluku "Sio Mama" dalam kampanye.
Ia meninggal pada Desember 2008 dalam usia 87 tahun, di sebuah rumah sakit di Singapura, dan dimakamkan di Tanah Kusir, Jakarta Selatan. Orang tuanya terbaring di Den Haag, ia di Jakarta.
Koran-koran kolonial yang memuat begitu banyak tentang leluhur laki-lakinya nyaris tidak memuat apa pun tentang dia. Pers kolonial mencatat pemegang jabatan, perkara pengadilan, dan pengumuman resmi; perempuan yang tidak memegang jabatan hanya masuk lewat iklan kelahiran, pernikahan, dan kematian keluarga.
Dari Benjamin sampai Dora, kedudukan keluarga ini di hadapan pemerintah berubah tiga kali: dari kepala walak yang memungut kopi dan tenaga di Langowan, ke pegawai sipil yang menyiapkan surat keputusan di Batavia dan Manado, lalu ke keluarga terdidik yang anak-anaknya bersekolah di Eropa.
Iklan kematian keluarga Sigar yang dipasang anak-anak Philip Frederik Laurens Sigar, menyebut istrinya Cornelie Emelie Maengkom, Algemeen Handelsblad 22 November 1946
Kolom catatan sipil yang memuat kematian Ph. Fr. L. Sigar, duda C. E. Maengkom, usia 61 tahun, Het Binnenhof 25 November 1946
Dora Marie Sigar, Wikipedia
Ronald Frisart, "Opa en oma Indonesische president liggen begraven in Den Haag. Hoe zit dat?", Historiek 7 November 2025, untuk keberangkatan 1933, alamat keluarga di Amsterdam dan Voorburg, pernikahan awal 1947, serta kunjungan Prabowo ke makam pada 25 September 2025
Leiden University Libraries/KITLV; nomor inventaris belum ditetapkan. Melalui Historiek.
Reproduksi dari terbitan cetak; fotografer dan penerbit asli belum diketahui. Melalui Historiek.
1790 - sekarang
Enam generasi, dari Langowan ke Istana
Lima generasi memisahkan Benjamin Thomas Sigar dari Prabowo Subianto. Dua generasi pertama memerintah distrik Langowan, dua berikutnya bekerja di kantor pemerintah kolonial di Batavia, Manado, dan Bandung, dan generasi kelima dibesarkan di Belanda.
-
Rekonstruksi modern, dibuat 2024. Bukan potret sezaman. Benjamin Thomas Sigar
Majoor atau Hukum Besar Langowan, 1848-1870 · Langowan, Minahasa
Berangkat ke Jawa pada 1829 sebagai bagian pasukan bantuan Minahasa di pihak kolonial. Dibaptis pada 1841, memerintah Langowan selama 22 tahun, meninggal pada usia sekitar 90 tahun.
-
Langowan sekitar 1900, distrik yang ia warisi dari ayahnya. Lourens Roeland Sigar
Majoor distrik Langowan, 1870-1884 · Langowan, Minahasa
Mewarisi jabatan ayahnya pada Januari 1870. Permohonannya atas sekitar 280 bouw tanah Noongan ditolak Landraad Minahasa pada 25 November 1878, dengan alasan pembukaan lahan oleh penduduk pribumi hanya melahirkan hak pakai. Diberhentikan dari dinas pemerintah pada Desember 1884.
-
Soerabaijasch Handelsblad, 2 Februari 1880. Koran kolonial adalah satu-satunya tempat generasi ini meninggalkan jejak. Philip Roeland Sigar
Juru tulis Algemeene Secretarie, Batavia · Batavia
Generasi pertama yang meninggalkan Minahasa untuk kantor pemerintah di Batavia. Diberhentikan dengan hormat pada 1878. Namanya muncul dalam pemberitaan tuduhan penipuan di Singapura pada 1885.
-
Philip Frederik Laurens Sigar. Arsip keluarga, tahun tidak diketahui. Philip Frederik Laurens Sigar
Gewestelijk Secretaris Manado, anggota Volksraad · Manado, Bandung, Voorburg
Pejabat tinggi pribumi di keresidenan Manado, kemudian administrateur di Bandung, dan anggota dewan rakyat bentukan kolonial. Menerima penghargaan kerajaan pada 1924. Wafat di Belanda pada November 1946.
-
Dora Marie Sigar. Arsip keluarga, tahun tidak diketahui. Dora Marie Sigar
Perawat · Langowan, Utrecht, Jakarta
Lahir di Langowan, dikirim bersekolah ke Utrecht pada usia 12 tahun, dan belajar keperawatan pascabedah. Menikah dengan ekonom Sumitro Djojohadikusumo dan memiliki empat orang anak.
-
Presiden ke-8 Republik Indonesia. Prabowo Subianto
Presiden Republik Indonesia · Jakarta
Anak kedua Dora Marie Sigar. Pada 23 Juli 2026 ia memakai istilah Londo Ireng untuk menyebut wartawan, pengamat, dan pegiat LSM, 197 tahun setelah wareng dari garis ibunya berlayar ke Jawa untuk berperang di pihak Belanda.
Foto: Instagram/@prabowo. Pemakaian di luar situs ini memerlukan izin.
Penutup · sekali lagi, Senayan
Londo Ireng, sekali lagi
10 bulan sebelum pidato itu, pada 25 September 2025, Prabowo singgah di Belanda dalam perjalanan pulang dari Sidang Umum PBB di New York. Ia menemui Raja Willem-Alexander di Huis ten Bosch, lalu pergi ke pemakaman Oud Eik en Duinen di Den Haag.
Di sana ia berdiri di depan sebuah nisan yang memuat dua nama: Philip Frederik Laurens Sigar dan Cornelie Emelie Maengkom. Kakek dan neneknya dari garis ibu. Ia mengangkat kedua tangannya dan berdoa, lalu mengunggah fotonya ke akun Instagramnya sendiri.
Media Belanda tidak memberitakannya. Media Indonesia memberitakannya luas.
Kembali ke Jakarta Convention Center, Kamis malam itu.
Istilah yang dipakai presiden bukan istilah kosong. Londo Ireng punya rujukan yang sangat konkret dalam sejarah Nusantara, dan rujukannya adalah orang-orang seperti Tawalijn Sigar: kepala kampung yang menandatangani kontrak, mengumpulkan 120 anak muda dari negerinya, dan mengantar mereka ke kapal untuk berperang di tanah Jawa.
Yang menarik adalah betapa sedikitnya pilihan yang mereka punya, dan betapa besarnya imbalan bila memilih dengan benar.
Pada 1829, Indonesia belum ada. Yang ada adalah walak, sultan, kompeni, dan misionaris. Bagi seorang kepala adat di Minahasa, "bangsa" yang bisa ia khianati atau ia bela bukanlah Indonesia, melainkan negerinya sendiri seluas beberapa kampung. Ia mempertahankan negeri itu dengan cara yang tersedia baginya: berunding dengan kekuatan terbesar di sekitarnya, lalu meminta bagian yang berguna bagi kelompok komunalnya.
Itulah sebabnya kategori Londo Ireng, kalau dipakai untuk masa lalu, adalah kategori yang tepat tetapi berat. Ia benar-benar menggambarkan sebuah kelas: perantara pribumi yang tanpa mereka kekuasaan kolonial mustahil bekerja.
Belanda tidak pernah cukup banyak untuk memerintah Nusantara sendirian. Mereka memerintah lewat kepala distrik, juru tulis, mandor, dan serdadu bayaran yang lahir di sini.
Dan itu pula sebabnya kategori yang sama menjadi licin ketika dipindahkan ke masa kini. Pada 1829, Londo Ireng adalah orang yang memanggul senapan untuk kekuatan asing yang sedang menembaki penduduk lokal. Pada 2026, kata itu ditujukan kepada orang yang menulis berita, menyusun laporan, dan mengajukan pertanyaan.
Jarak antara dua hal itu adalah jarak antara sejarah dan retorika.
Sejarahnya sendiri, seperti hampir semua sejarah keluarga di negeri ini, jauh lebih berlumpur daripada versi mana pun yang enak diceritakan.
Ada laki-laki yang menghalangi misionaris lalu dibaptis. Ada anak yang mewarisi jabatan lalu kalah berperkara melawan pemerintah yang ia layani. Ada cucu yang dikejar tuduhan penipuan. Ada cicit yang menerima bintang jasa dari Ratu Belanda dan mati di Voorburg satu tahun setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan. Ada perempuan yang lahir di Langowan, sekolah di Utrecht, dan melahirkan seorang presiden Republik.
Tidak ada satu pun dari mereka yang bisa disederhanakan menjadi satu kata.
Termasuk, barangkali, orang-orang yang pada hari itu menyebut Londo Ireng dari atas podium.